Perjuangan membangun Indonesia setelah kemerdekaan nggak hanya dilakukan melalui politik dan pemerintahan. Di tengah perubahan sosial dan politik, berbagai kelompok masyarakat juga mulai menunjukkan perannya dalam membentuk identitas nasional yang baru.
Mulai dari gerakan perempuan, pelaksanaan Pemilihan Umum pertama, hingga munculnya gagasan Nasakom, semuanya menjadi bagian dari dinamika Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Lalu, seperti apa perkembangan kekuatan-kekuatan tersebut? Yuk, kita bahas satu per satu!
Perkembangan gerakan perempuan di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak masa sebelum kemerdekaan. Setelah tahun 1928, gerakan ini semakin berkembang dan mulai memiliki organisasi dengan latar belakang serta afiliasi politik yang beragam.
Beberapa organisasi perempuan bahkan berafiliasi dengan partai politik atau organisasi keagamaan. Contohnya adalah Aisyiyah dari Muhammadiyah, Muslimat Masyumi, Muslimat NU, Perwari, serta Gerwis yang kemudian berkembang menjadi Gerwani.
Organisasi-organisasi tersebut nggak hanya menjadi tempat berkumpulnya perempuan. Mereka juga memperjuangkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan perempuan dan keluarga.
Salah satu isu krusial yang diperjuangkan adalah hak-hak perempuan dalam perkawinan.
Gerakan perempuan mendorong terbentuknya Undang-Undang Perkawinan yang dapat memberikan perlindungan dan kedudukan yang lebih baik bagi perempuan. Mereka juga menentang praktik poligami di kalangan pegawai negeri.
Bahkan, muncul aksi demonstrasi untuk menentang PP No. 19 Tahun 1952 yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Selain melakukan aksi dan advokasi, dibentuk pula Komisi NTR (Nikah, Talak, Rujuk) sebagai salah satu upaya menangani persoalan perkawinan.
Gerakan perempuan pun semakin mendapat pengakuan secara nasional. Pada tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu melalui SK No. 316 Tahun 1959.
Nggak hanya aktif di dalam negeri, organisasi perempuan Indonesia juga mulai berkiprah di tingkat internasional.
Salah satunya dilakukan oleh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Kowani menjadi salah satu inisiator utama Konferensi Perempuan Asia-Afrika yang diselenggarakan di Colombo pada tahun 1958.
Dari sini terlihat bahwa gerakan perempuan nggak hanya memperjuangkan persoalan domestik. Mereka juga ikut mengambil bagian dalam kehidupan sosial, politik, dan hubungan internasional Indonesia.
Nah, selain berkembangnya gerakan perempuan, Indonesia juga menghadapi persoalan lain, yaitu ketidakstabilan politik. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mengatasinya adalah menyelenggarakan Pemilihan Umum pertama.
Pada masa Demokrasi Liberal, Indonesia mengalami ketidakstabilan politik. Salah satu penyebabnya adalah kabinet yang sering mengalami pergantian.
Kondisi ini membuat pemerintah membutuhkan sebuah mekanisme untuk memperoleh legitimasi politik dari rakyat. Karena itu, penyelenggaraan Pemilihan Umum menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat sistem politik Indonesia.
Landasan hukumnya diwujudkan melalui pengesahan UU No. 7 Tahun 1953.
Pemilu pertama Indonesia kemudian dilaksanakan pada tahun 1955. Sistem yang digunakan adalah perwakilan berimbang atau proportional representation.
Menariknya, pelaksanaan pemilu ini berlangsung secara aman, jujur, dan demokratis dengan tingkat partisipasi rakyat yang sangat tinggi.
Pemungutan suara dilakukan dalam dua tahap.
29 September 1955, untuk memilih anggota DPR.
15 Desember 1955, untuk memilih anggota Konstituante.
Lalu, siapa saja yang memperoleh suara terbanyak?
Hasil Pemilu 1955 menunjukkan adanya polarisasi kekuatan politik di Indonesia. Empat kekuatan politik yang menjadi Empat Besar adalah PNI, Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), dan PKI.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pilihan politik yang beragam. Nasionalisme, agama, dan komunisme menjadi beberapa kekuatan besar yang berkembang pada saat itu.
Keberagaman kekuatan politik ini kemudian menjadi bagian penting dalam dinamika politik Indonesia pada masa berikutnya.
Salah satu gagasan yang muncul untuk menyatukan berbagai kekuatan tersebut adalah Nasakom.
Jauh sebelum konsep Nasakom diterapkan dalam politik Indonesia, Soekarno sebenarnya sudah memikirkan gagasan untuk menyatukan tiga kekuatan besar dalam masyarakat.
Pada tahun 1926, Soekarno menulis artikel mengenai Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme di koran Suluh Indonesia Muda.
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi konsep Nasakom, yaitu singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme.
Menurut gagasan ini, tiga kekuatan tersebut diharapkan dapat disatukan sebagai kekuatan revolusioner untuk mencapai tujuan bangsa.
Konsep Nasakom kemudian semakin mendapatkan tempat ketika Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin.
Nasakom dijadikan salah satu poros ideologi pemersatu bangsa untuk menggantikan sistem demokrasi parlementer. Tiga kekuatan politik yang sering dikaitkan dengan konsep ini adalah PNI, NU, dan PKI.
Namun, menyatukan tiga kekuatan dengan latar belakang ideologi yang berbeda tentu nggak mudah.
Konsep Nasakom menimbulkan berbagai perselisihan dan pro-kontra di tingkat nasional. Salah satu tokoh yang menolak gagasan tersebut adalah Mohammad Hatta.
Perbedaan pandangan politik antara Soekarno dan Hatta kemudian semakin berkembang dan menjadi salah satu bagian dari berakhirnya hubungan Dwitunggal antara keduanya.
Gagasan Nasakom nggak hanya dibicarakan di dalam negeri. Soekarno juga membawa gagasan mengenai persatuan kekuatan revolusioner Indonesia ke panggung internasional.
Pada tahun 1960, Soekarno menyampaikan pidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikenal dengan judul “To Build The World Anew”.
Namun, dinamika politik Indonesia terus berubah. Perselisihan antara berbagai kekuatan politik semakin tajam hingga akhirnya terjadi peristiwa G30S pada tahun 1965.
Setelah peristiwa tersebut, kekuatan politik PKI mengalami keruntuhan dan konsep Nasakom pun ikut kehilangan pijakannya dalam kehidupan politik Indonesia.
Jadi, perkembangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan nggak hanya ditandai oleh perubahan pemerintahan. Berbagai kelompok masyarakat dan kekuatan politik juga terus berkembang dan saling berinteraksi.
Mulai dari perjuangan gerakan perempuan, pelaksanaan Pemilu 1955, hingga gagasan Nasakom, semuanya menunjukkan bahwa identitas nasional Indonesia terus mengalami proses pembentukan di tengah keberagaman kekuatan sosial dan politik.