Pernah nggak sih kalian ngebayangin, gimana euforianya hidup di bulan Agustus 1945? Pasti luar biasa banget, guys! Semua itu bermula pasca dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara Amerika Serikat, yang bikin Kekaisaran Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu. Kejadian bersejarah ini otomatis bikin terjadinya vacuum of power atau kekosongan kekuasaan di Indonesia kita tercinta. Tentu aja, momen yang langka ini gak disia-siakan sama para tokoh founding fathers kita, guys. Langsung deh, pada tanggal 17 Agustus 1945, Bapak Proklamator kita, Soekarno, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Akhirnya, kita merdeka!
Tapi guys, ternyata drama perjuangan bangsa kita belum kelar sampai di situ aja, lho. Ibarat lagi main game, habis ngalahin boss pertama, eh malah muncul boss baru yang jauh lebih ngeselin! Habis proklamasi dibacakan, rakyat kita ternyata nggak bisa langsung hidup damai dan tenteram. Kenapa? Karena muncul ancaman baru dari luar yang bikin kita terpaksa harus berjuang lagi.
Jadi gini awal mula ceritanya. Nggak lama setelah momen proklamasi, tepatnya pada pertengahan bulan September 1945, pasukan Sekutu (yang tergabung dalam AFNEI alias Allied Forces Netherlands East Indies) datang dan mendarat di Jakarta. Pasukan yang saat itu dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison ini sebenernya datang dengan misi yang kelihatannya wajar-wajar aja. Tugas utama mereka tuh cuma buat nerima penyerahan kekuasaan dari pihak Jepang, ngelucutin persenjataan tentara Jepang, sama ngebebasin para tawanan perang Sekutu yang sebelumnya disekap sama Jepang.
Pada mulanya sih, kedatangan mereka disambut dengan niat baik sama pemerintah dan rakyat Indonesia. Contohnya di Sumatera Utara, pemerintah kita bahkan sampai ngizinin mereka buat nempatin hotel-hotel di sana, semata-mata buat ngehargain niat mereka yang katanya cuma mau ngurusin masalah tawanan perang.
Eh, tapi ternyata ada niat terselubung di balik kedatangan mereka, guys. Ada udang di balik batu! Di dalam rombongan tentara AFNEI, ternyata ikut nyelip orang-orang Belanda dari NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Ternyata oh ternyata, si mantan penjajah ini masih nggak rela move on! NICA keukeuh banget pengen ngambil alih lagi kekuasaan dan niat balikin Indonesia supaya jadi negara jajahan kolonial mereka lagi. Wah, bener-bener cari gara-gara kan?
Kelakuan mereka pas udah sampai di lapangan juga sukses bikin rakyat kita naik pitam. Gimana nggak, bekas-bekas tawanan Belanda yang udah dibebasin itu malah langsung dipersenjatai dan dibentuk jadi batalyon militer. Bukannya bilang makasih karena udah dibantuin, mereka malah bersikap super angkuh, sombong, dan ngerasa sok jago karena jadi pihak pemenang Perang Dunia Kedua. Ngeselinnya lagi, mereka sampai berani ngelakuin tindakan-tindakan yang secara terang-terangan menghina para pemimpin Indonesia, yang pastinya memicu kekacauan besar.
Rakyat kita, yang saat itu udah mulai ngerasain nikmatnya udara kebebasan, jelas gak mau tinggal diam dong! Pemuda-pemuda kita di berbagai wilayah langsung on fire dan sadar betul kalau kedaulatan ini harus dipertahanin, berapapun harganya.
Nah, kondisi inilah yang kemudian memicu meledaknya perjuangan fisik di masa revolusi. Buat kalian yang mungkin bingung, perjuangan fisik itu adalah perlawanan nyata yang ngandelin kekuatan militer dan senjata, bukan sekadar negosiasi di meja perundingan. Perlawanan lewat jalan pedang ini terpaksa dilakukan karena ulah Belanda yang provokatif, bikin rakyat kita nggak punya opsi lain selain melawan balik dengan kekerasan demi mengusir penjajah.
Hasilnya, seluruh lapisan masyarakat kita bener-bener bersatu padu. Mulai dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), barisan-barisan pemuda daerah, laskar-laskar perjuangan, sampai rakyat jelata, semuanya ikut turun ke jalan dan bahu-membahu ngangkat senjata. Pokoknya, semboyannya cuma satu: "Merdeka atau Mati!". Ini jadi bukti paling keren tentang tingginya rasa nasionalisme dan sikap pantang menyerah bangsa kita waktu itu.
Oke guys, welcome back! Sesuai dengan janji dan request kalian, sekarang kita bakal masuk ke babak baru dari cerita perjuangan pahlawan kita. Kalau di bagian pendahuluan kita udah bahas kenapa sih bangsa kita harus angkat senjata lagi, sekarang kita bakal terbang langsung ke Pulau Sumatera, tepatnya ke kota Medan. Di sini ada sebuah peristiwa epik yang dikenal dengan nama Pertempuran Medan Area. Siapin snacks kalian, karena drama yang satu ini bener-bener bikin darah mendidih, guys!
Cerita ini bermula pada tanggal 9 Oktober 1945. Waktu itu, pasukan Sekutu (Inggris) yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat dengan gagah di Sumatera Utara. Pasukan ini bawa satu brigade penuh, yaitu Brigade 4 dari Divisi India ke-26. Niat awalnya sih kelihatan mulia banget, yaitu buat ngurusin tawanan perang dan melucuti senjata tentara Jepang.
Sebagai tuan rumah yang baik dan ramah, pemerintah Republik Indonesia di Sumatera Utara nyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Saking baiknya nih, para pejabat kita sampai ngebolehin pasukan Sekutu ini buat nginep dan nempatin beberapa hotel mewah di Medan, kayak Hotel de Boer, Grand Hotel, sampai Hotel Astoria. Bahkan, ada juga pasukan yang dibolehin pasang tenda-tenda di lapangan sekitar Tanjung Morawa dan Binjai. Pemerintah kita waktu itu murni cuma pengen ngehargain tugas mereka aja.
Tapi guys, di sinilah kelicikan itu dimulai! Tanpa sepengetahuan pejabat kita, di dalem rombongan Sekutu itu ternyata nyelip orang-orang NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Sehari habis mendarat, tim Sekutu yang tergabung dalam RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) langsung gerak cepat keliling kamp-kamp tawanan di Pulau Brayan, Pematang Siantar, Saentis, Rantau Prapat, dan Berastagi. Mereka ngebebasin para tawanan Belanda ini dan bawa mereka ke Medan.
Eh, bukannya pada tahu diri habis dibebasin, para mantan tawanan perang ini malah langsung dibentuk jadi batalyon militer KNIL dan dikasih senjata! Sikap mereka mendadak berubah jadi super angkuh, congkak, dan sombong banget karena ngerasa jadi pihak yang menang di Perang Dunia Kedua. Kelakuan sok jagoan mereka ini jelas aja bikin para pemuda Sumatera Utara mulai gedek dan kepancing emosinya. Buat antisipasi hal-hal yang nggak diinginkan, para pemuda dan pejuang kita sebenernya udah ngebentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Medan pada tanggal 10 Oktober 1945 di bawah pimpinan komandan Ahmad Tahir.
Nah, puncak dari segala kekesalan ini meledak pada tanggal 13 Oktober 1945. Trigger utamanya adalah sebuah insiden super ngeselin di sebuah hotel di Jalan Bali, Kota Medan. Waktu itu, ada seorang penghuni hotel (pasukan NICA) yang dengan sengaja merampas dan nginjek-nginjek lencana merah putih yang lagi dipakai sama salah satu pemuda Indonesia.
Wah, jelas aja darah arek-arek Medan langsung mendidih melihat lambang negara dilecehkan kayak gitu! Merasa kedaulatan dan harga dirinya diinjak-injak, para pemuda kita langsung ngamuk dan nyerang hotel tersebut. Pertempuran pun pecah! Dalam insiden perusakan hotel itu, jatuh korban luka-luka sebanyak 96 orang, yang sebagian besar mah beneran orang-orang NICA itu sendiri. Insiden lencana inilah yang jadi titik awal alias kick-off dimulainya Pertempuran Medan Area yang legendaris itu. Bahkan, semangat perlawanan ini langsung nular dan menjalar ke kota-kota lain kayak Pematang Siantar dan Berastagi.
Melihat pemuda Indonesia yang makin on fire, pihak Sekutu mulai panik dan nyoba main ancam. Pada tanggal 18 Oktober 1945, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly ngeluarin ultimatum yang isinya nyuruh bangsa Indonesia buat nyerahin semua senjata mereka ke pihak Sekutu. Tentu aja pemuda kita nggak sudi nurutin perintah itu! Akibatnya, pasukan Sekutu dan NICA makin sering ngelakuin aksi teror di kota Medan. Pasukan Inggris jadi nggak pernah merasa aman kalau lagi patroli ke luar kota, karena pemuda kita siap nyergap mereka kapan aja.
Makin hari, kelakuan Sekutu makin ngelunjak nih, guys. Puncaknya terjadi pada tanggal 1 Desember 1945. Pihak Sekutu dengan seenak jidatnya masang papan-papan besar di berbagai sudut pinggiran kota Medan. Tahu nggak apa tulisan di papan itu? Tulisannya adalah "Fixed Boundaries Medan Area" yang artinya "Batas Resmi Wilayah Medan". Lewat papan ini, Sekutu secara sepihak nentuin batas wilayah kekuasaan mereka. Tindakan ini bener-bener pelanggaran kedaulatan yang nyata dan dianggap sebagai tantangan perang terbuka bagi para pemuda. Semenjak ada papan inilah, istilah "Medan Area" jadi sangat terkenal.
Konfrontasi bersenjata pun makin gila-gilaan dan nggak bisa dihindari lagi. Setiap usaha Sekutu buat ngusir pejuang kita, selalu dibalas dengan aksi pengepungan dan pertempuran sengit. Pada tanggal 10 Desember 1945, NICA dan Inggris nyoba ngehancurin pusat konsentrasi TKR di daerah Trepes, tapi usaha mereka itu sukses digagalkan sama pejuang kita. Hebatnya lagi, pemuda kita sampai berhasil nyulik seorang perwira Inggris dan ngehancurin beberapa truk milik Sekutu! Aksi heroik ini bikin Jenderal T.E.D. Kelly makin kelimpungan dan ngancem bakal nembak mati siapa aja yang nggak mau nyerahin senjata.
Sayangnya, karena Sekutu terus mendesak dan punya persenjataan yang lebih lengkap, pada bulan April 1946 pemerintah Republik Indonesia di Medan terpaksa harus mengalah sementara. Pusat pemerintahan seperti Gubernur, Wali Kota, sampai Markas Divisi TKR akhirnya harus dipindahkan ke luar kota, tepatnya ke Pematang Siantar. Di titik ini, Inggris emang berhasil nguasai kota Medan.
Tapi, jangan pikir pejuang kita nyerah gitu aja dong! Perjuangan masih terus berlanjut. Pada tanggal 10 Agustus 1946, para komandan pasukan ngadain pertemuan rahasia di daerah Tebing Tinggi. Dari pertemuan krusial ini, mereka sepakat buat ngebentuk sebuah komando baru yang diberi nama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando ini punya markas di Sudi Mengerti (Trepes) dan ngebagi kekuatan jadi 4 sektor, di mana masing-masing sektor punya kekuatan setara 1 batalyon. Di bawah komando baru inilah, api perlawanan di Medan Area terus menyala dan dilanjutkan buat ngegebuk mundur pasukan penjajah.
Gimana guys? Asli bikin gemes tapi juga bangga banget kan sama keberanian pemuda-pemuda Sumatera Utara waktu itu? Mereka nggak peduli walau senjatanya pas-pasan, yang penting lambang negara nggak boleh diinjak-injak!
Halo guys! Masih semangat kan? Kalau di bagian sebelumnya kita udah bahas panasnya cuaca dan suasana di pertempuran Medan Area, sekarang kita terbang ke Jawa Timur, tepatnya ke Kota Pahlawan, Surabaya. Pasti kalian udah nggak asing dong sama tanggal 10 November yang selalu kita peringati sebagai Hari Pahlawan? Nah, di balik tanggal itu, ada rentetan peristiwa super dramatis dan epik yang bikin nama Indonesia makin berkibar di mata dunia. Siapin hati kalian, karena cerita kali ini bener-bener bakal bikin merinding!
Semuanya berawal saat pasukan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Sama kayak di daerah lain, niat awal mereka tuh katanya cuma mau ngurusin tawanan perang dan ngelucutin senjata tentara Jepang. Eh, tapi ternyata mereka juga bawa "penumpang gelap", yaitu orang-orang NICA yang pengen balikin kekuasaan penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.
Insiden Bendera di Hotel Yamato yang Bikin Darah Mendidih Nah, trigger pertama dari pertempuran super besar di Surabaya ini justru terjadi sedikit sebelum kedatangan Mallaby, tepatnya pada malam hari tanggal 18 September 1945. Waktu itu, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman dengan sok jagonya ngibarin bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di tiang paling atas Hotel Yamato (yang dulunya bernama Hotel Oranje, dan sekarang jadi Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan No. 65. Jelas aja kelakuan arogan ini dikutuk keras, apalagi mereka nggak minta izin sama sekali ke pemerintah RI setempat!
Keesokan harinya, arek-arek Suroboyo yang ngelihat bendera itu langsung ngamuk berat karena ngerasa Belanda udah melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih dan menghina kedaulatan Indonesia. Residen Surabaya saat itu, Soedirman (bukan Panglima Besar Jenderal Soedirman ya, guys), langsung masuk ke hotel buat berunding dan minta baik-baik supaya Ploegman nurunin bendera itu. Tapi apa coba responsnya? Ploegman malah nolak mentah-mentah, ngeluarin pistol, dan terjadilah perkelahian sengit di ruang perundingan!
Ploegman akhirnya tewas dicekik oleh pemuda bernama Sidik, walau sayangnya Sidik juga harus gugur ditebas tentara Belanda yang berjaga di sana. Sementara itu, di luar hotel, pemuda bernama Hariyono dan Koesno Wibowo nekat manjat tiang bendera di puncak hotel, nurunin bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan ngerek lagi bendera itu sebagai Sang Saka Merah Putih. Wah, asli heroik banget, guys!
Kalian pikir yang berjuang pakai senjata cuma tentara aja? Big no! Di Surabaya, peran ulama dan santri itu massive banget, lho. Melihat gelagat penjajah yang makin ngelunjak, para ulama NU nggak tinggal diam. Pada 22 Oktober 1945, bertempat di kantor PBNU di Jalan Bubutan Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari bersama para ulama perwakilan se-Jawa dan Madura mencetuskan sebuah seruan epik yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.
Isi Resolusi Jihad ini nggak main-main, guys. Ulama memfatwakan kalau membela tanah air dari penjajah itu hukumnya fardhu ain (wajib bagi setiap individu) buat umat Islam yang berada dalam radius 94 kilometer dari tempat musuh berada. Seruan ini sukses bikin semangat juang meledak! Laskar-laskar Islam kayak Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah langsung on fire. Puluhan ribu santri dari berbagai daerah kayak Cirebon (yang digerakkan oleh KH. Abbas Buntet), Jombang, Pasuruan, hingga Bandung berduyun-duyun datang ke Surabaya buat gabung di garis depan pertempuran. Kebayang kan gimana solid-nya bangsa kita waktu itu?
Ketegangan di Surabaya makin menjadi-jadi dan puncaknya pecah pada 30 Oktober 1945. Waktu itu, mobil Buick yang ditumpangi oleh komandan Sekutu, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, dicegat oleh milisi Indonesia di sekitar Jembatan Merah (dekat Gedung Internatio). Gara-gara kesalahpahaman dan ketegangan yang udah memuncak, terjadilah baku tembak super sengit. Di tengah chaos itu, mobil Mallaby meledak kena granat dan Mallaby pun tewas akibat tembakan.
Kematian jenderal kebanggaan mereka ini sukses bikin pihak Inggris ngamuk sejadi-jadinya, guys! Jenderal penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh, langsung ngeluarin ultimatum pada tanggal 9 November 1945. Isi ultimatumnya bener-bener nginjek harga diri bangsa: semua pimpinan dan orang Indonesia yang punya senjata harus lapor, nyerahin senjatanya, dan datang sambil angkat tangan paling lambat jam 06.00 pagi tanggal 10 November 1945. Kalau nggak, Inggris ngancam bakal ngehancurin Surabaya dari darat, laut, dan udara!
Kira-kira arek-arek Suroboyo takut nggak sama ancaman itu? Jelas enggak dong! Alih-alih nyerah, para pejuang kita malah sepakat ngangkat semboyan: "Merdeka atau Mati!". Dan bener aja, tepat tanggal 10 November pagi, Inggris nepatin janjinya buat ngebombardir Surabaya habis-habisan pakai pesawat tempur, tank, dan meriam.
Tapi pejuang kita gak mundur selangkah pun! Semangat mereka terus dipompa lewat siaran radio yang dipandu oleh Bung Tomo. Suara Bung Tomo yang berapi-api bener-bener jadi suntikan energi buat laskar rakyat, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan para santri buat terus maju nabrak pertahanan musuh yang bersenjata modern. Bung Tomo bahkan sempat berkonsultasi dulu dengan KH. Hasyim Asy'ari dan menunggu kedatangan KH. Abbas dari Cirebon sebelum memulai perlawanan rakyat secara total.
Pertempuran gila-gilaan ini berlangsung alot banget sampai sekitar tiga minggu lamanya. Bayangin guys, Inggris yang awalnya ngira bisa naklukin Surabaya dalam hitungan hari, malah ketahan berminggu-minggu gara-gara perlawanan super gigih dari rakyat kita! Memang sih, ujung-ujungnya secara militer seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh ke tangan Sekutu pada akhir November. Korban dari pihak kita juga nggak main-main, ada sekitar 6.300 sampai 15.000 nyawa pahlawan dan warga sipil yang gugur, plus ratusan ribu orang terpaksa harus ngungsi dari kota yang hancur.
Tapi, di balik kekalahan secara militer itu, pertempuran ini sukses ngebuka mata dunia internasional, lho. Dunia akhirnya sadar kalau bangsa Indonesia itu beneran rela mati demi mempertahankan kemerdekaannya. Perjuangan di Surabaya ini juga jadi simbol nasional perlawanan paling ikonik se-Indonesia melawan kolonialisme. Itulah makanya, pengorbanan luar biasa kakek-nenek buyut kita diabadikan jadi Hari Pahlawan!
Nah, gimana guys? Merinding nggak sih ngebayangin betapa beraninya kakek-buyut kita dulu ngadepin tank dan bom Sekutu cuma modal bambu runcing, senapan seadanya, dan semangat jihad?
Kalau di bagian sebelumnya kita udah puas ngebahas betapa panasnya pertempuran dan chaos-nya situasi di Surabaya, sekarang saatnya kita cooling down dikit dari hawa Jawa Timur dan geser perlahan ke wilayah Jawa Tengah.
Kita bakal ngebahas sebuah pertempuran krusial yang jadi bukti nyata kalau pahlawan kita nggak cuma modal nekat, tapi juga super jenius dalam mengatur strategi militer. Yes, kita bakal masuk ke Pertempuran Ambarawa. Siapin imajinasi kalian, karena episode kali ini bakal penuh dengan taktik brilian ala jenderal legendaris kita. Let's dive in!
Semuanya bermula pada tanggal 20 Oktober 1945. Waktu itu, tentara dari pasukan Sekutu (AFNEI) yang diboncengi oleh NICA tiba di kota Semarang di bawah pimpinan komandan mereka, yaitu R.G. Bethell. Nah, seperti biasa nih, di awal kedatangannya mereka selalu pasang wajah ramah dan bawa-bawa misi kemanusiaan. Tujuan awal mereka datang ke Semarang katanya sih murni cuma pengen membebaskan para tawanan perang yang saat itu ditahan di daerah Ambarawa dan Magelang.
FYI aja ini mah buat kalian yang mungkin belum tahu, Ambarawa itu adalah sebuah wilayah strategis yang letaknya persis di antara jalur Semarang-Magelang dan Semarang-Solo, ya guys. Jadi, bisa dibilang posisinya ini tuh penting banget buat jalur pergerakan pada masa itu.
Pada awalnya, pihak pemerintah dan pejuang kita di Jawa Tengah santai-santai aja dan membiarkan Sekutu ngurusin tawanan tersebut. Eh, tapi ternyata kebaikan hati bangsa kita ini lagi-lagi dimanfaatin! Setelah para tawanan yang dulunya ditahan sama Jepang itu dibebaskan, bukannya pada bersyukur dan pulang dengan tenang, para bekas tawanan ini justru dipersenjatai sama Sekutu dan mulai berbuat onar.
Jelas aja hal ini bikin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang lagi bertugas ngamanin rakyat jadi ngamuk berat! Bayangin aja, udah dikasih izin baik-baik, eh malah bikin rusuh di tanah orang. TKR jelas nggak bisa tinggal diam dan langsung take action buat ngelindungin kedaulatan kita.
Puncaknya, pada tanggal 21 November 1945, pihak TKR langsung ngerangsek dan nyerang pihak lawan yang lagi bikin keributan di Magelang. Berkat semangat juang yang on fire, pasukan kita sukses bikin musuh kocar-kacir dan berhasil memukul mundur mereka sampai melarikan diri ke Ambarawa.
Merasa terdesak dan terancam karena kekuatan pasukan TKR yang nggak ada takutnya, pasukan AFNEI akhirnya main kotor, guys. Mereka membalas serangan mematikan TKR dengan cara menjatuhkan bom-bom dari udara ke desa-desa yang ada di sekitar Ambarawa pada tanggal 26 November 1945. Wah, bener-bener licik dan kejam banget kan? Pertempuran sengit pun akhirnya nggak bisa dihindari lagi dan meledak jadi perang besar.
Di tengah situasi yang makin chaos dan berbahaya ini, muncullah sesosok pahlawan luar biasa yang kelak bakal jadi legenda besar militer Indonesia. Beliau adalah Kolonel Sudirman (yang pada saat itu belum jadi Jenderal Besar, ya), yang bertugas sebagai pemimpin TKR Divisi Banyumas. Melihat pasukannya dibombardir dan rakyatnya menderita, Kolonel Sudirman langsung turun tangan memimpin langsung pertempuran.
Tepat pada tanggal 12 Desember 1945, Kolonel Sudirman ngeluarin jurus rahasianya. Beliau nyerang musuh pakai sebuah taktik super brilian yang dikenal dengan nama strategi supit urang. Buat kalian yang penasaran, strategi ini dieksekusi dengan cara membentuk formasi layaknya capit udang (supit urang dalam bahasa Jawa).
Jadi, pasukan TKR dibagi sedemikian rupa buat ngepung musuh dari dua sisi sekaligus secara bersamaan. Dengan taktik ini, pasukan Sekutu bener-bener dibikin mati kutu! Mereka terkurung rapat di tengah-tengah capit udang TKR, jalur komunikasi dan logistik mereka terputus total, dan mereka nggak punya celah sedikit pun buat kabur. Bener-bener mind-blowing deh pokoknya!
Hasil dari strategi jenius ini? Luar biasa sukses! Setelah berhari-hari digempur habis-habisan tanpa ampun dan terkurung rapat, pasukan TKR Ambarawa akhirnya berhasil meraih kemenangan total pada tanggal 15 Desember 1945. Pasukan AFNEI dan NICA akhirnya harus ngaku kalah dan dipukul mundur dari wilayah tersebut.
Nah, kemenangan gemilang berkat taktik supit urang ini nggak cuma bikin nama Kolonel Sudirman makin bersinar, tapi juga jadi tonggak sejarah penting buat militer kita. Makanya, sampai detik ini, kemenangan epik di tanggal 15 Desember itu selalu dirayain dengan bangga sebagai Hari Infanteri. Respect banget buat perjuangan dan kecerdasan pahlawan kita!
Gimana guys? Keren banget kan baca sejarah pertempuran yang nggak cuma adu otot, tapi juga adu otak kayak di Ambarawa ini? Taktik yang cerdas sukses mengalahkan musuh yang persenjataannya jauh lebih modern!
Halo guys! Masih stay tune dan semangat kan ngikutin rentetan sejarah kita? Setelah sebelumnya kita ngebahas gimana cerdasnya taktik supit urang yang mengepung musuh di Ambarawa, sekarang saatnya kita meluncur ke Jawa Barat, tepatnya ke "Kota Kembang", Bandung.
Pernah nggak sih kalian pas lagi upacara bendera atau acara kemerdekaan nyanyiin lagu Halo-Halo Bandung? Pasti tahu dong karya legendaris dari Ismail Marzuki ini?
Terutama pas bagian lirik yang bunyinya, "Sekarang telah menjadi lautan api, mari Bung rebut kembali!" Nah, lirik epik itu nggak cuma sekadar kiasan puitis, lho. Lirik tersebut bener-bener terinspirasi langsung dari sebuah peristiwa nyata yang super dramatis, penuh air mata, dan sarat akan pengorbanan luar biasa, yaitu peristiwa Bandung Lautan Api. Penasaran gimana kotanya bisa beneran jadi lautan api? Let's dive in!
Cerita ini diawali pasca kemerdekaan, ketika "tamu tak diundang" datang berkunjung. Tepat pada tanggal 12 Oktober 1945, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI datang dan mendarat di kota Bandung. Rombongan tentara ini dikomandoi oleh Brigadir MacDonald. (Dan inget ya guys, ini nama pangkat dan marga komandan militer Inggris, gak ada hubungannya sama sekali sama kakek-kakek jualan ayam goreng atau burger kesukaan kalian itu, hehe!). Seperti pola di kota-kota sebelumnya, kedatangan Sekutu ini tentu aja diboncengi oleh orang-orang NICA.
Awalnya sih mereka beralasan cuma pengen menjalankan misi kemanusiaan. Katanya, mereka cuma mau ngebebasin para tawanan perang Belanda yang dulu sempet ditahan sama pihak Jepang. Tapi, realita di lapangan berkata lain. Bukannya fokus sama misinya, mereka malah mulai melanggar janji, berbuat rusuh, dan bertingkah sewenang-wenang terhadap penduduk lokal. Jelas aja sikap arogan ini bikin mood rakyat dan pejuang Bandung jadi rusak berat.
Ketegangan ini makin memuncak ketika pihak Sekutu, dengan sok jagonya, berani ngeluarin ultimatum atau peringatan keras. Mereka nyuruh supaya seluruh rakyat Bandung nyerahin senjata api yang mereka miliki ke tangan Sekutu. Tentu aja rakyat Bandung nggak sudi nurutin kemauan penjajah! Akibatnya, rentetan pertempuran bersenjata pun pecah dan memanas sepanjang bulan November 1945 sampai Maret 1946.
Fase pertempuran paling krusial dimulai pada tanggal 21 November 1945, di mana para pejuang kita dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bandung Utara secara heroik mulai melancarkan serangan dan perlawanan terhadap pihak Sekutu. Merasa tertantang, tiga hari kemudian (tanggal 24 November), Sekutu malah membalas dengan ngeluarin ultimatum baru yang lebih ngeselin. Mereka merintahin supaya seluruh tentara dan penduduk segera mengosongkan wilayah Bandung Utara. Tentu saja ultimatum ini ditolak keras oleh rakyat dan pejuang kita!. Bentrokan berdarah pun pecah. Sayangnya, karena persenjataan kita yang waktu itu masih kalah modern, pihak TKR belum berhasil mempertahankan wilayah Bandung Utara dan terpaksa harus bergeser.
Fast forward ke beberapa bulan kemudian, Sekutu yang ngerasa udah mulai nguasain keadaan makin ngelunjak nih, guys. Pada tanggal 23 Maret 1946, mereka kembali ngeluarin ultimatum baru. Kali ini, mereka menuntut supaya Bandung Selatan juga dikosongkan dari seluruh elemen pejuang dan masyarakat bersenjata!. Bayangin guys, disuruh angkat kaki dari rumah dan tanah kelahiran sendiri secara paksa, siapa coba yang nggak sakit hati?
Menghadapi situasi yang super kritis dan terjepit ini, Panglima Divisi Siliwangi pada saat itu, yaitu Kolonel A.H. Nasution, dihadapkan pada pilihan yang sangat berat. Kalau pasukan TKR nekat memaksakan diri buat bertempur secara terbuka (head-to-head), jumlah korban jiwa pasti bakal sangat besar karena kalah persenjataan. Tapi, kalau mereka nurut dan mundur begitu aja, Sekutu bakal dapet untung besar karena bisa manfaatin seluruh bangunan, markas, dan fasilitas strategis di Bandung Selatan buat memperkuat militer mereka.
Akhirnya, pada malam hari di tanggal 23 Maret 1946 itu juga, Kolonel A.H. Nasution mengambil sebuah keputusan bersejarah yang sangat berani dan tak terlupakan. Beliau memang memerintahkan supaya seluruh penduduk Bandung Selatan dievakuasi atau dipindahkan ke daerah pegunungan yang lebih aman. Tapi, sebelum pergi, mereka mengeksekusi sebuah strategi ekstrem yang disebut dengan taktik bumi hangus!.
Kalian tahu apa itu bumi hangus? Jadi, semua bangunan penting, markas, rumah-rumah warga, fasilitas umum, dan aset strategis yang ada di Bandung Selatan dengan sengaja dibakar habis oleh pejuang dan rakyat kita sendiri!. Mereka rela rumahnya jadi abu ketimbang harus direbut dan dimanfaatkan oleh musuh. Filosofinya simple tapi deep banget: "Biar kota kami hancur lebur dimakan api, asalkan nggak jatuh ke tangan penjajah!"
Di tengah chaos-nya proses pembakaran kota massal malam itu, ada satu misi rahasia yang paling epik dan berbahaya. Targetnya adalah menghancurkan gudang senjata musuh biar Sekutu nggak bisa nyerang balik dan persediaannya lumpuh. Nah, tugas super mematikan ini diambil oleh dua pemuda pemberani bernama Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan. Keduanya adalah anggota pejuang dari Barisan Rakyat Indonesia.
Dengan keberanian tingkat dewa dan nyali yang luar biasa, mereka berdua berhasil menyusup masuk dan secara nekat meledakkan gudang mesiu (gudang amunisi/bahan peledak) milik pihak musuh tersebut!. Boom! Ledakannya luar biasa dahsyat, sukses menghancurkan gudang itu berkeping-keping sehingga senjata musuh gagal dipakai. Namun, aksi heroik ini dibayar dengan harga yang sangat mahal. Karena besarnya skala ledakan, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan nggak sempat menyelamatkan diri dan gugur di tempat sebagai pahlawan bangsa. Bener-bener respect tanpa batas buat pengorbanan nyawa mereka berdua!
Malam itu, kobaran api dari ribuan bangunan yang dibakar menyala begitu terang sampai bikin langit malam Bandung berubah jadi merah menyala layaknya lautan api. Dari sanalah, momen heroik dan menyayat hati ini diabadikan selamanya dalam sejarah dengan nama Bandung Lautan Api. Peristiwa ini bukan cuma soal kalah atau menang secara taktis, tapi menjadi simbol monumental tentang sebesar apa cinta rakyat Indonesia terhadap kemerdekaannya. Mereka rela kehilangan harta benda terpenting yang mereka miliki asalkan kedaulatan negara tetap terjaga dan pantang menyerah kepada Sekutu.
Gimana guys? Asli bikin merinding dan terharu banget kan baca kegigihan dan pengorbanan mereka? Pengorbanan mereka bener-bener jadi reminder buat kita semua sebagai anak muda zaman now supaya terus menjaga negara ini.
Halo guys! Masih setia stay tune dan ngikutin series sejarah perjuangan bangsa kita kan? Kalau di bagian sebelumnya kita udah diajak baper dan merinding bareng ngebahas pengorbanan luar biasa lewat taktik bumi hangus di peristiwa Bandung Lautan Api, sekarang kita bakal melintasi lautan dan terbang ke pulau surga kebanggaan Indonesia. Yes, kita menuju ke Pulau Dewata, Bali!
Kalau denger kata Bali zaman now, mungkin yang kebayang di otak kalian langsung sunset di pantai atau liburan yang super chill. Tapi guys, balik lagi ke tahun 1946, suasananya bener-bener jauh dari kata chill. Di sana, pernah meledak sebuah pertempuran epik berdarah yang jadi bukti kalau jiwa patriotisme rakyat Bali itu nggak main-main. Peristiwa legendaris ini dikenal dengan nama Puputan Margarana. Siapin mental kalian ya, karena cerita heroik dari ksatria Bali ini dijamin bakal bikin speechless. Let's go!
Cerita ini bermula pada bulan Maret 1946, di mana tentara Belanda ternyata udah mulai menduduki beberapa wilayah di Bali. Kedatangan mereka ini jelas bikin suasana langsung panas. Namun, trigger utama dari meledaknya pertempuran dahsyat ini sebenernya berasal dari meja perundingan politik, guys. Tepatnya setelah kesepakatan bernama Perjanjian Linggarjati dilaksanakan antara pihak Indonesia dan Belanda pada tanggal 15 November 1946.
Kenapa sih Perjanjian Linggarjati ini bikin warga Bali ngamuk? Jadi gini ceritanya. Secara garis besar, poin krusial di Perjanjian Linggarjati menyebutkan kalau secara de facto wilayah Republik Indonesia itu hanya diakui terdiri dari Sumatera, Jawa, dan Madura. Coba perhatiin deh. Nama Pulau Bali sama sekali gak disebut dan secara hukum nggak masuk ke dalam wilayah kedaulatan Indonesia!
Keputusan ini bener-bener kayak petir di siang bolong. Adalah pahlawan kharismatik kita, I Gusti Ngurah Rai, yang saat itu berstatus sebagai pimpinan pasukan Laskar Bali, merasa sangat kecewa dengan keputusan perjanjian tersebut. Ibaratnya, mereka udah berjuang mati-matian ngebela negara, eh malah pulaunya nggak diakui masuk ke wilayah Ibu Pertiwi secara sepihak.
Kekecewaan ini makin menjadi-jadi saat pihak Belanda nyoba main licik. Ngelihat I Gusti Ngurah Rai lagi kecewa, Belanda malah nyoba ngajakin kompromi buat ngebentuk negara boneka yang diberi nama Negara Indonesia Timur (NIT). Wah, ini sih bener-bener salah cari lawan! Sebagai seorang patriot sejati, I Gusti Ngurah Rai secara tegas menolak ajakan dan rayuan manis penjajah itu. Bagi beliau, Bali adalah bagian mutlak dari Indonesia.
Karena diplomasi ditolak, ketegangan pun memuncak dan aksi bersenjata mulai dikerahkan. I Gusti Ngurah Rai nggak cuma sekadar nolak secara lisan, tapi beliau langsung nunjukin taringnya lewat aksi militer berani! Tepat pada tanggal 18 November 1946, I Gusti Ngurah Rai memimpin pasukannya buat menyerang markas Belanda yang berlokasi di wilayah Tabanan. Aksi serangan ini bener-bener bikin pihak musuh kocar-kacir! Pertempuran sengit di Tabanan ini sukses dimenangkan oleh I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya. Kemenangan ini sukses bikin moral para pejuang Bali makin on fire.
Tapi guys, layaknya peperangan, musuh nggak bakal tinggal diam habis dipermalukan. Merasa harga dirinya diinjak-injak akibat kalah telak, Belanda langsung merencanakan aksi balas dendam. Cuma selang dua hari dari kekalahan mereka di Tabanan, tepatnya pada tanggal 20 November 1946, Belanda mengerahkan seluruh kekuatan pasukan militer buat mengepung dan menyerang pulau Bali habis-habisan.
Puncak dari serangan balas dendam musuh ini difokuskan ke sebuah desa bernama Desa Marga, tempat di mana I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya sedang bersembunyi membangun pertahanan. Situasi tempur saat itu bener-bener chaos, guys. Terjadi ketidakseimbangan kekuatan yang sangat besar antara tentara kita dengan militer Belanda. Belanda datang bawa persenjataan canggih, pasukan melimpah, dan dukungan bantuan dari berbagai sektor militer. Sementara itu, Laskar Bali cuma bermodalkan senjata rampasan seadanya dan perlengkapan serba tradisional.
Kalau dipikir pakai logika, menyerah mungkin opsi paling aman biar selamat. Tapi, kamus hidup I Gusti Ngurah Rai sama sekali nggak kenal kata menyerah! Di tengah kepungan maut dari segala penjuru desa, beliau justru berdiri tegap dan menyerukan sebuah komando pertempuran suci bagi Laskar Bali, yaitu pertempuran puputan.
Buat kalian yang belum tahu, istilah puputan ini adalah prinsip ksatria lokal kuno yang berarti pertempuran habis-habisan sampai titik darah penghabisan. Prinsip perjuangan dari puputan yang diserukan beliau ini super tegas: "Belanda harus angkat kaki dari Bali, jika ingin Bali dalam kondisi aman dan damai!". Pantang bagi ksatria-ksatria Bali untuk takluk dan memohon ampun di bawah telapak kaki penjajah. Mereka jauh lebih milih untuk berjuang dan mati terhormat di medan tempur.
Maka, pecahlah pertempuran paling emosional di hari itu. Diiringi semangat pantang mundur yang menyala-nyala, I Gusti Ngurah Rai bersama seluruh prajuritnya menerjang maju melawan hujan peluru dan gempuran armada Belanda. Mereka terus ngasih perlawanan yang sangat gigih dan heroik walau sadar betul persenjataannya jauh lebih inferior. Pertempuran sengit ini bener-bener berjalan gila-gilaan, merepresentasikan cinta tanah air tanpa batas.
Namun sayangnya, karena perbandingan kekuatan militer dan jumlah pasukan yang terlalu jomplang, takdir pun berkata lain. Di penghujung hari yang sama, yaitu pada tanggal 20 November 1946, pahlawan kebanggaan kita, I Gusti Ngurah Rai, akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut saat melawan Belanda.
Pertempuran heroik yang super epic antara penjajah Belanda dan tentara Indonesia di Bali ini pun abadi serta dikenang sepanjang masa dalam lembaran sejarah kita sebagai peristiwa Puputan Margarana. Walaupun secara fisik kehilangan nyawa dan gugur beramai-ramai, perang puputan ini sukses jadi simbol nyata dari dedikasi total, keberanian murni, serta pengorbanan tertinggi bangsa kita buat sebuah hal yang sangat mahal harganya: kedaulatan negara!
Gimana guys ceritanya? Bener-bener epik dan bikin rasa kebanggaan nasional kita makin merinding kan? Kakek moyang kita udah ngasih bukti yang sangat nyata kalau mempertahankan negara itu butuh nyawa dan perjuangan tanpa gentar. Makanya, sebagai generasi penerus zaman now, kita harus banget ngehargain pengorbanan mereka.
Halo guys! Masih semangat nggak nih ngikutin series sejarah perjuangan bangsa kita? Setelah sebelumnya kita dibikin baper dan merinding sama aksi pantang menyerah pahlawan kita di Bali lewat perang puputan, sekarang kita bakal terbang melintasi lautan lagi. Kali ini, kita bergeser menjauh dari Pulau Jawa dan Bali, menuju ke kawasan timur Indonesia, tepatnya ke Sulawesi Tenggara.
Siapa bilang pertempuran epik mempertahankan kemerdekaan itu cuma ada di Jawa atau Sumatera aja? Eits, jangan salah sangka! Di sebuah kabupaten bernama Kolaka, ada sebuah rentetan peristiwa heroik luar biasa yang membuktikan kalau semangat kemerdekaan itu merata sampai ke ujung pelosok nusantara. Episode kali ini kita bakal ngebahas tuntas soal Pertempuran Pemuda Kolaka melawan tentara NICA. Yuk, siapin snack kalian dan mari kita selami ceritanya!
Kisah heroik ini meledak dan menemui puncaknya pada tanggal 19 November 1945 di sebuah daerah perdesaan yang bernama Kampung Sabilambo, Kabupaten Kolaka. Coba bayangin deh, saat itu kemerdekaan kita baru aja diproklamasikan dan usianya masih seumur jagung. Eh, tiba-tiba tentara Belanda yang tergabung dalam komando NICA (Netherlands Indies Civil Administration) datang nyelonong lagi dengan niat terselubung buat ngambil alih kekuasaan. Jelas aja pemuda dan rakyat Kolaka nggak sudi daerahnya dijajah lagi! Momen di Kampung Sabilambo ini pun dicatat sebagai salah satu titik awal meledaknya perlawanan besar rakyat Kolaka terhadap penjajah.
Aksi para pemuda Kolaka ini beneran nggak main-main lho, guys. Saking berani dan nekatnya mereka, dalam sebuah insiden pertempuran sengit di wilayah Kampung Sabilambo tersebut, pemuda kita sukses menyergap dan menangkap tiga orang tentara NICA. Ketiga tentara bule itu pun tanpa ampun langsung dilucuti dan dijadikan tawanan perang oleh pejuang lokal kita. Wah, asli keren banget kan nyali arek-arek Kolaka ini? Persenjataan boleh seadanya peninggalan Jepang atau bambu runcing, tapi kalau soal nyali dan taktik, kita tetep nomor satu!
Nah, yang bikin cerita ini makin menarik dan bikin dada kita membusung bangga adalah kedewasaan serta sikap ksatria dari para pemimpin kita waktu itu. Setelah sukses melakukan penangkapan ketiga tentara NICA tersebut, masalah ini nggak lantas diselesaikan dengan main hakim sendiri. Keputusan tersebut kemudian dibawa secara elegan ke meja perundingan, guys. Perundingan tingkat tinggi ini dilakukan secara langsung antara komandan tentara Sekutu dengan Petor (sebutan resmi untuk Kepala Pemerintahan Republik Indonesia Daerah Kolaka pada masa itu).
Tahu nggak apa respons dari pihak Sekutu sehabis perundingan itu? Alih-alih ngamuk atau ngancam, pihak komandan Sekutu malah menyampaikan rasa salut dan hormat yang luar biasa kepada sikap Pemerintah Republik Indonesia daerah setempat! Kenapa coba? Karena pihak kita bersedia menyerahkan kembali para tawanan perang itu dengan cara yang sangat terhormat dan beradab. Ini jadi tamparan sekaligus bukti telak buat dunia internasional kalau bangsa Indonesia itu bangsa yang menjunjung tinggi hukum, bukan gerombolan pemberontak liar kayak yang sering dipropagandakan sama Belanda.
Tapi sayangnya nih, vibes damai yang elegan ini nggak bertahan lama. Habis kejadian penyerahan tawanan itu, ketegangan di Kolaka malah makin memanas dan super intense. Pihak NICA ternyata nggak tahu diuntung dan mulai main kotor dari belakang. Merasa harga dirinya tersinggung dan pengen unjuk kekuatan, NICA mulai ngelakuin berbagai aksi represif nan kejam di berbagai sudut wilayah Kolaka.
Kelakuan tentara NICA ini bener-bener bikin darah mendidih. Mereka dengan seenaknya membakar rumah-rumah penduduk sipil dan bahkan berani melakukan tindak pembunuhan terhadap warga lokal yang sebenarnya nggak bersalah sama sekali. Bener-bener licik dan nggak punya hati nurani!
Eh, tapi jangan kira aksi teror NICA itu sukses bikin rakyat Kolaka jadi ciut nyalinya. Justru sebaliknya! Tindakan kejam musuh malah bikin semangat juang pemuda kita makin menyala-nyala bak disiram bensin. Walaupun NICA punya senjata lengkap dari Sekutu, nyatanya kekuasaan mereka itu cuma mentok dan terbatas di pusat Kota Kolaka dan sekitarnya aja. Cuma berani jago kandang tuh mereka! Sementara itu, kalau kita bergeser ke pedalaman Kolaka, bendera Merah Putih tetep gagah berkibar sebagai simbol absolut perlawanan rakyat yang pantang tunduk sama penjajah.
Karena pusat kota Kolaka udah telanjur diduduki secara paksa sama NICA, akhirnya Kepala Pemerintahan (Petor) Republik Indonesia Daerah Kolaka mengambil sebuah keputusan strategis. Beliau nggak mau menyerah gitu aja, melainkan memilih memimpin perlawanan secara gerilya masuk ke wilayah hutan. Nah, taktik perang gerilya dari dalem hutan ini emang jadi andalan bangsa kita banget guys, karena musuh pasti bakal pusing tujuh keliling buat nyariin markas dan pergerakan pasukan kita.
Sementara pemimpinnya bergerilya dari dalam hutan, para pemuda Kolaka yang on fire juga nggak mau ketinggalan aksi. Para pemuda yang tergabung dalam wadah milisi bernama Pemuda Keamanan Rakyat (PKR), langsung bersatu padu bahu-membahu bareng masyarakat umum. Mereka terus ngelancarin serangan dadakan dan perlawanan tanpa henti terhadap pos-pos pertahanan pasukan Belanda.
Perjuangan gigih para pemuda di Sulawesi Tenggara ini nggak cuma berlangsung dalam hitungan hari atau bulan aja lho, guys. Catatan sejarah resmi udah ngebuktiin kalau perlawanan militan mereka itu ulet dan awet banget! Bayangin aja, terhitung sejak meledaknya insiden di tanggal 19 November 1945 itu, sampai menjelang pengakuan kedaulatan di bulan September 1949, telah meledak sedikitnya 24 kali pertempuran antara pasukan PKR melawan tentara NICA di wilayah Kolaka dan sekitarnya. Gila kan ketahanannya?
Rentetan 24 kali pertempuran berdarah ini jelas bukan sebuah angka yang main-main. Konsistensi perlawanan ini jadi bagian yang sangat penting dari jejak perjuangan panjang rakyat Kolaka dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pasca pembacaan Proklamasi 1945. Mereka bener-bener ngewujudin sumpah suci rela berkorban demi negara!
Gimana guys? Merinding nggak sih ngebaca aksi heroik arek-arek Kolaka ini? Meskipun secara geografis letak mereka jauh dari pusat pemerintahan ibu kota di Jawa, semangat nasionalisme dan keberanian mereka bener-bener pantas diacungi dua jempol. Mereka ngasih pelajaran berharga ke kita kalau tugas ngebela dan ngerawat negara itu kewajiban seluruh elemen anak bangsa, dari Sabang sampai Merauke!
Halo guys! Masih setia pantengin series sejarah kita kan? Kalau di bab-bab sebelumnya kita udah keliling wilayah nusantara dari Sumatera sampai Sulawesi buat ngelihat gimana gigihnya pemuda daerah berjuang mati-matian, sekarang kita masuk ke babak puncaknya nih.
Di bagian ke-7 ini, kita bakal mengupas tuntas kelicikan musuh berskala nasional yang berujung pada meledaknya Agresi Militer Belanda I dan II. Wah, siap-siap emosi deh baca kelakuan mantan penjajah kita yang satu ini! Yuk, siapin snack kalian, dan langsung aja kita bahas!
Cerita ini bermula dari sebuah upaya penyelesaian konflik lewat meja perundingan yang melahirkan kesepakatan bersejarah bernama Perjanjian Linggarjati pada bulan November 1946. Lewat kesepakatan itu, Belanda sebenernya udah secara resmi mengakui kekuasaan de facto Republik Indonesia di wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura.
Tapi dasar penjajah, ternyata mereka nggak bener-bener ikhlas dan setengah hati nerima hasil perundingan tersebut. Belanda ternyata punya mindset arogan yang ngerasa kalau bangsa kita tuh belum pantes buat punya kekuasaan penuh atas negara sendiri. Apalagi, mereka juga nggak suka dan memprotes keras pas ngelihat pemerintah Indonesia udah mulai berani aktif nyari dukungan dan ngebangun hubungan diplomatik sama negara-negara luar.
Karena ngerasa punya power lebih, Gubernur Jenderal Belanda saat itu, yaitu H.J. van Mook, akhirnya ngeluarin deklarasi sepihak pada tanggal 15 Juli 1947. Lewat deklarasi ini, Belanda ngasih waktu cuma dua minggu aja buat Indonesia nurutin kemauan mereka. Jelas aja dong, keesokan harinya tepat tanggal 16 Juli 1947, pemerintah kita dengan tegas menolak deklarasi konyol dan merugikan tersebut lewat siaran radio! Penolakan keras ini sukses bikin pihak Belanda geram sejadi-jadinya.
Puncaknya, pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda dengan seenak jidatnya melanggar Perjanjian Linggarjati dan melancarkan operasi militer secara besar-besaran yang kita kenal dengan nama Agresi Militer Belanda I. Lucunya nih guys, ke hadapan dunia internasional, Belanda ngeles dan ngeyakinin negara lain kalau serangan yang mereka lakuin ini bukan sebuah agresi bersenjata, melainkan cuma sebuah "aksi polisionil" (politionele acties) buat ngejaga keamanan dalam negeri aja. Padahal mah niat busuk aslinya jelas banget: mereka sengaja pengen ngancurin keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ngerebut kembali daerah-daerah yang punya sumber daya ekonomi penting buat kepentingan mereka.
Gempuran ganas Belanda ini emang bikin wilayah kekuasaan kita jadi makin menyusut dan kecil, guys. Banyak infrastruktur penting di berbagai kota yang hancur lebur, serta ratusan hingga ribuan rakyat sipil harus jadi korban. Perekonomian dan stabilitas masyarakat kita juga bener-bener terguncang.
Tapi, di balik musibah luar biasa itu, ternyata ada blessing in disguise! Kelakuan kejam Belanda ini justru sukses bikin dunia internasional jadi ilfeel dan mengecam keras tindakan mereka. Buktinya, negara-negara luar kayak India, Australia, sampai Mesir langsung speak up buat ngebela dan mengakui kedaulatan Indonesia. Bahkan, Dewan Keamanan PBB juga sampai turun tangan ngeluarin resolusi buat mengecam dan menghentikan operasi militer Belanda. Status bangsa kita di mata dunia perlahan langsung naik level, dari yang awalnya dianggap cuma sebatas "pemberontak", berubah jadi negara merdeka yang kedaulatannya lagi diserang habis-habisan!
Tekanan dari dunia internasional itu pada akhirnya emang maksa Belanda buat balik lagi duduk di meja perundingan, salah satunya lewat Perjanjian Renville. Tapi, surprise surprise, penjajah mana sih yang bisa dipercaya? Mereka kembali ngingkari janjinya! Kali ini, serangan yang mereka luncurin justru jauh lebih nekat, masif, dan terencana. Tepat pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda secara brutal melancarkan Agresi Militer Belanda II yang disandikan dengan nama Operasi Gagak.
Di bawah komando langsung dari panglima militer mereka, yaitu Letnan Jenderal Simon Spoor, pasukan militer Belanda nyerang pusat jantung negara kita secara tiba-tiba di pagi buta (pukul 05.30 pagi). Waktu itu, ibu kota Indonesia lagi dipindah sementara ke Yogyakarta, guys. Pasukan musuh tanpa basa-basi langsung menerjunkan pasukan buat menguasai Lapangan Terbang Maguwo dan ngerangsek masuk ke wilayah ibu kota. Serangan super mematikan ini ternyata nggak cuma difokusin di Jogja aja, tapi nyebar secara serentak ke wilayah vital lainnya kayak Bukittinggi di Sumatera, serta beberapa kota di provinsi Jawa Timur kayak Malang, Kediri, Madiun, dan Solo di Jawa Tengah. Pokoknya, mereka bener-bener niat ngelumpuhin kekuasaan kita secara total!
Nah, yang bikin jantung rakyat Indonesia serasa mau copot saat pertempuran itu pecah adalah tertangkapnya para pemimpin tertinggi kita! Tokoh-tokoh krusial sekaligus simbol negara alias dwitunggal, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta, beserta sekitar 20 ribu prajurit TNI dan pejabat lainnya berhasil dikepung dan ditawan sama Belanda.
Secara logika strategi perang zaman dulu, kalau ibu kotanya udah jatuh dan pucuk pimpinannya udah ditangkap, negara itu pasti dianggap langsung bubar dan menyerah kan? Tapi eitss, Belanda salah perhitungan! Bangsa kita gak gampang nyerah gitu aja. Para pemimpin kita ternyata cerdik dan cepet tanggap dalam merespons situasi gawat darurat tersebut dengan langsung ngebentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Lewat PDRI inilah, kita nunjukin dengan gagah ke mata dunia internasional kalau "Hei, struktur politik dan pemerintahan Republik Indonesia belum mati lho!".
Jatuhnya ibu kota negara justru malah bikin rakyat dan militer kita jadi makin bersatu padu. Partai-partai politik yang tadinya sering berselisih kayak PNI, Masyumi, dan PSI rela nyingkirin perbedaan mereka demi bahu-membahu ngebela republik. Koordinasi sipil dan militer malah jadi makin erat banget.
Di sektor militer, Panglima Besar kebanggaan kita, Jenderal Soedirman, ngambil langkah paling ikonik dalam sejarah. Walaupun kondisi fisiknya lagi sakit, beliau nggak menyerah dan milih keluar dari kota buat memimpin langsung perang gerilya yang sangat melelahkan dari dalam hutan. Strategi perang gerilya alias hit and run ini sukses besar bikin pasukan Belanda pusing tujuh keliling, bingung, dan mati kutu. Konsep perlawanan rakyat yang menyeluruh ini kemudian jadi fondasi lahirnya sistem pertahanan tempur Perang Semesta.
Perpaduan taktik jitu antara perjuangan militer gerilya yang nggak ada matinya di dalam negeri dan lobi diplomasi internasional yang terus-terusan nekan musuh dari luar, akhirnya bikin posisi Belanda makin kejepit habis-habisan. Ujung-ujungnya, karena udah dapet kecaman bertubi-tubi dari PBB, negara-negara Asia, sampai ditekan oleh Amerika Serikat, Belanda akhirnya terpaksa menyerah pada realita. Lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, Belanda dengan berat hati akhirnya resmi mengakui kedaulatan Indonesia secara penuh, baik secara de facto maupun de jure!
Gimana guys? Bener-bener dapet banget kan roller coaster emosinya baca sejarah yang satu ini? Masa revolusi fisik ini jadi bukti valid kalau ujian dan tekanan berat dari luar (seperti agresi militer penjajah) justru bertindak layaknya katalis yang mempercepat pematangan dan kekompakan politik bangsa kita. Pengorbanan kakek-buyut kita dari tahun 1945 sampai 1949 ini bener-bener berbuah sangat manis.