Tahukah kamu kalau salah satu kerajaan terbesar di Nusantara ternyata berawal dari kisah intrik berdarah dan perebutan kekuasaan yang super dramatis? Yap, namanya Kerajaan Singasari! Kisah peralihan kekuasaan para raja Singasari pada awalnya memang selalu diwarnai pertumpahan darah yang dilatari oleh aksi balas dendam. Tapi jangan salah lho, kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok ini kelak menjadi fondasi utama dan cikal bakal berdirinya kemegahan Kerajaan Majapahit.
Berdiri sejak tahun 1222 Masehi, Singasari menjelma menjadi sebuah kerajaan maritim sekaligus agraris yang sangat kuat di wilayah Jawa Timur pada abad ke-13. Kehidupan agraris mereka sangat makmur berkat lokasinya yang strategis di lembah Sungai Brantas yang super subur. Nggak cuma itu, aliran Sungai Brantas juga dimanfaatkan secara cerdas sebagai jalur lalu lintas perdagangan antardaerah yang sangat mendukung kemajuan sektor maritim mereka. Keren banget, kan?
Penasaran bagaimana detail perjalanan sejarah dan pengaruh kerajaan legendaris ini? Yuk, kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!
Tahukah kamu kalau sebelum menjelma menjadi kerajaan maritim yang sangat besar dan disegani, wilayah Singasari ini pada awalnya hanyalah sebuah daerah bawahan? Yap, pada mulanya, wilayah ini bernama Tumapel, yang statusnya hanya sebagai kadipaten atau daerah bawahan dari Kerajaan Kediri. Pada masa itu, Tumapel dipimpin oleh seorang pejabat daerah yang disebut akuwu (kedudukannya kira-kira setara dengan camat pada masa sekarang) bernama Tunggul Ametung.
Namun, kisah perjalanan Tumapel berubah sangat drastis karena diwarnai oleh intrik berdarah dan ambisi kekuasaan yang luar biasa. Ken Arok, yang saat itu hanyalah seorang pengawal, merancang siasat licik untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Dengan menggunakan keris legendaris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh sang akuwu, mengambil alih tampuk kekuasaan Tumapel, dan memperistri Ken Dedes. Tapi, ambisinya nggak berhenti sampai di situ saja, lho! Ken Arok kemudian dengan berani memimpin sebuah pemberontakan besar melawan penguasa Kerajaan Kediri, yaitu Raja Kertajaya4. Puncak perlawanan ini terjadi pada Perang Ganter di tahun 1222 Masehi, di mana pasukan Ken Arok berhasil meraih kemenangan telak atas Kertajaya. Kemenangan gemilang ini sekaligus membebaskan wilayah Tumapel dari bayang-bayang kekuasaan Kediri.
Nah, setelah berhasil merdeka, Ken Arok pun mendeklarasikan berdirinya kerajaan baru. Tapi coba tebak, apa nama resmi kerajaan ini saat pertama kali didirikan? Ternyata bukan Singasari, lho! Nama resmi kerajaan ini pada saat itu adalah Kerajaan Tumapel, dengan pusat pemerintahannya yang berada di sebuah ibu kota bernama Kutaraja.
Lalu, pertanyaannya, dari mana asalnya nama Singasari yang kita kenal sekarang? Perubahan nama ini ternyata baru terjadi beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1253 Masehi. Pada tahun tersebut, Raja Wisnuwardhana mengadakan upacara untuk mengangkat putranya, yaitu Kertanegara, sebagai yuwaraja atau raja muda. Bersamaan dengan momen penting pengangkatan tersebut, Raja Wisnuwardhana memutuskan untuk mengubah nama ibu kota kerajaannya dari Kutaraja menjadi Singhasari. Uniknya, lambat laun nama ibu kota Singhasari ini justru menjadi jauh lebih populer dan lebih sering digunakan oleh masyarakat ketimbang nama asli kerajaannya, yaitu Tumapel9. Itulah asal-usul mengapa kerajaan ini kemudian lebih dikenal luas oleh sejarah dengan nama Kerajaan Singasari! Sangat menarik, bukan?
Sekarang, kamu mungkin mulai penasaran, dari mana sih para sejarawan bisa tahu semua kisah seru dan dramatis tentang Kerajaan Singasari ini? Yap, untuk merekonstruksi sejarah yang sudah terjadi berabad-abad lalu, para ahli bergantung pada beberapa sumber penting. Yuk, kita bahas satu per satu!
Pertama, ada Kitab Pararaton. Kitab sastra kuno yang satu ini ibarat buku catatan drama sejarah yang super epik! Di dalamnya, kamu bisa menemukan cerita lengkap tentang intrik berdarah, mitos, hingga perebutan takhta antarkeluarga kerajaan yang sangat menegangkan. Yang paling ikonik dan melegenda dari kitab ini tentu saja kisah kutukan mematikan dari Keris buatan Mpu Gandring yang disebut akan meminta tumbal nyawa hingga tujuh turunan, termasuk merenggut nyawa sang pendiri kerajaan itu sendiri, yaitu Ken Arok. Seram banget, kan?
Kedua, kita punya Kitab Nagarakretagama. Nah, kalau sumber yang satu ini sangat berbeda dengan Pararaton yang terkesan penuh intrik perebutan takhta. Kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit ini, gaya bahasanya jauh lebih rapi, formal, dan diplomatis. Kitab ini menjadi sumber sejarah yang sangat penting karena merekam silsilah penguasa Singasari tanpa menceritakan aib pembunuhan antar raja. Selain itu, Nagarakretagama juga mencatat ambisi politik luar negeri Singasari yang luar biasa di bawah Raja Kertanegara.
Ketiga, selain karya sastra, bukti otentik yang tak terbantahkan juga didapatkan dari peninggalan batu bertulis atau Prasasti. Beberapa prasasti yang menjadi bukti kuat antara lain Prasasti Mula Malurung yang memuat silsilah penguasa secara akurat. Lalu ada Prasasti Wurare, serta Prasasti Padang Roco peninggalan tahun 1286 Masehi yang menjadi saksi bisu pelaksanaan Ekspedisi Pamalayu ke Pulau Sumatra.
Terakhir, kebesaran Singasari ternyata nggak cuma diakui di wilayah Nusantara saja, lho! Buktinya, sejarah kerajaan ini juga terekam dalam dokumen internasional, yakni Catatan Tiongkok dari masa Dinasti Yuan. Uniknya, dalam kronik Tiongkok tersebut, Kerajaan Tumapel atau Singasari disebut dengan ejaan nama "Tu-ma-pan"16. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Singasari adalah kerajaan besar yang punya interaksi luas sampai ke daratan Tiongkok pada masa itu! Keren banget, ya?
Sekarang kita bahas letak geografisnya nih! Kamu tahu nggak di mana letak pasti pusat pemerintahan Kerajaan Singasari pada masa lalu? Yap, kerajaan besar ini berpusat di wilayah pedalaman Jawa Timur, yang kalau diukur pada wilayah masa sekarang, lokasinya diperkirakan berada di sekitar Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Ternyata, penentuan lokasi ibu kota ini bukan tanpa alasan, lho! Letak geografis Singasari ini benar-benar sangat strategis dan penuh perhitungan. Pusat kerajaan dibangun di kawasan dataran tinggi. Nah, posisi di dataran tinggi ini sangat menguntungkan secara militer karena membuat pertahanan istana menjadi jauh lebih kokoh dan pastinya sangat sulit untuk ditembus atau diserang oleh musuh dari luar. Aman banget, kan?
Nggak cuma untung di bidang pertahanan pertahanan saja, Kerajaan Singasari juga dilimpahi anugerah alam karena berada di kawasan lembah Sungai Brantas. Keberadaan sungai besar ini membawa berkah yang luar biasa bagi kehidupan masyarakatnya. Air yang melimpah dari Sungai Brantas membuat tanah di wilayah pedalaman ini menjadi super subur. Makanya, nggak heran kalau sektor agraris atau pertanian di Singasari tumbuh sangat pesat dan menjadi andalan utama yang menjamin kemakmuran pangan rakyatnya.
Eits, peran Sungai Brantas nggak berhenti sampai di urusan sawah dan cocok tanam saja, ya! Masyarakat pada masa itu juga sangat cerdas memanfaatkan aliran sungai ini sebagai jalur lalu lintas perdagangan antardaerah yang sangat vital. Akses sungai ini secara langsung menghubungkan wilayah pedalaman yang kaya akan hasil bumi dengan kawasan-kawasan pelabuhan yang sibuk di pesisir utara.
Kombinasi kondisi alam yang super sempurna inilah yang menjadi kunci kesuksesan mereka. Dengan pertahanan dataran tinggi yang aman dari serangan musuh, lahan pertanian yang subur, serta akses jalur perdagangan sungai yang sangat aktif, Kerajaan Singasari berhasil memutar roda perekonomiannya dengan sangat maksimal. Jadi, nggak heran deh, kalau kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok ini bisa tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan politik yang paling disegani di Nusantara pada abad ke-13!
Sekarang kita lanjut ke bagian politik dan silsilah penguasanya nih, yang ternyata penuh dengan drama! Kamu tahu nggak, kalau raja-raja yang kelak berkuasa di tanah Jawa itu sebagian besar berawal dari satu garis keturunan Singasari? Yap, silsilah para penguasa ini tergabung dalam keluarga besar yang disebut dengan Dinasti Rajasa atau Rajasawangsa.
Sayangnya, transisi kekuasaan di masa awal kerajaan ini sangat kelam karena diwarnai oleh intrik berdarah dan aksi balas dendam, seolah kutukan keris Mpu Gandring benar-benar terjadi. Ken Arok, sang pendiri kerajaan, tewas dibunuh oleh anak tirinya sendiri, yaitu Anusapati. Saling balas dendam ini terus berlanjut, lho! Anusapati kemudian tewas dibunuh oleh Tohjaya, yang tak lain adalah anak kandung Ken Arok dari selirnya yang bernama Ken Umang. Wah, ngeri banget, ya!
Untungnya, rantai dendam berdarah ini berhasil dihentikan melalui sebuah strategi rekonsiliasi politik yang super cerdas. Raja Wisnuwardhana, yang merupakan keturunan dari pihak Tunggul Ametung, naik takhta dan memilih untuk menjalankan pemerintahan bersama dengan Mahisa Campaka atau Narasinghamurti, yang merupakan keturunan dari Ken Arok6. Pemerintahan bersama ini sukses mengakhiri dendam masa lalu sekaligus menyatukan kembali kerajaan yang sempat terpecah.
Setelah melewati masa-masa kelam, Kerajaan Singasari akhirnya berhasil mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Kertanegara (1268-1292 M). Kertanegara ini bukan raja biasa, ia punya gagasan politik yang sangat ambisius bernama Cakrawala Mandala Dwipantara, yaitu cita-cita besar untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Demi mewujudkan hal tersebut, ia mengadakan sebuah misi diplomatik dan militer besar-besaran yang terkenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 Masehi ke Sumatra (Dharmasraya). Ekspedisi ini juga bertujuan sangat krusial, yaitu untuk membendung ancaman ekspansi dari Kekaisaran Mongol pimpinan Kaisar Khubilai Khan.
Namun siapa sangka, misi besar ini justru menjadi celah keruntuhannya. Saat sebagian besar pasukan militer utamanya sedang dikirim jauh ke luar Jawa, terjadi kekosongan pertahanan yang parah di pusat kerajaan. Kondisi yang rapuh ini langsung dimanfaatkan oleh Jayakatwang, raja bawahan dari Kediri, untuk melancarkan pemberontakan besar pada tahun 1292 Masehi. Serangan mendadak ini akhirnya menewaskan Kertanegara dan menutup lembaran sejarah kebesaran Kerajaan Singasari untuk selamanya.
Lanjut ke urusan perut dan cuan alias kondisi ekonomi masyarakat Singasari, yuk! Tahukah kamu kalau kehidupan sosial-ekonomi kerajaan ini sangat bertumpu pada dua sektor utama, yaitu pertanian dan perdagangan laut? Yap, pertumbuhan ekonomi mereka di Pulau Jawa memang sangat pesat dan signifikan berkat pengelolaan kedua sektor tersebut. Wilayah pusat kerajaan yang berada di sekitar kawasan lembah Sungai Brantas memberikan anugerah berupa lahan pertanian yang super subur untuk bercocok tanam. Nggak berhenti di urusan agraris saja, lho! Aliran air Sungai Brantas ini juga sukses dikuasai dan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakatnya sebagai jalur utama lalu lintas perdagangan antardaerah yang sangat strategis.
Meski letaknya menguntungkan, kondisi perekonomian Kerajaan Singasari ini ternyata fluktuatif alias sempat mengalami pasang surut seperti rollercoaster. Pada awal berdirinya di era pemerintahan Ken Arok, ekonomi tumbuh sangat makmur karena beliau berupaya keras melayani kepentingan rakyat dan membawa kesejahteraan bagi kerajaannya. Sayangnya, fokus pada kemakmuran ini sempat terabaikan di masa Raja Anusapati. Kenapa bisa begitu? Rupanya, selain kondisi istana yang sedang dipenuhi bayang-bayang intrik dendam keluarga, Anusapati sendiri sangat gemar menghabiskan waktunya dengan hobi menyabung ayam. Keadaan yang sempat merosot ini akhirnya membaik, dan barulah ketika Raja Kertanegara naik takhta, roda perekonomian kembali digenjot hingga sukses mencapai puncak kejayaan tertingginya.
Untuk mendukung ambisi besar menyatukan Nusantara, Kerajaan Singasari nggak cuma mengandalkan jalur sungai pedalaman, lho. Mereka juga terus memperluas jangkauan dengan membangun akses perdagangan maritim yang luar biasa kuat! Kerajaan ini sangat cerdas memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa yang sangat sibuk, seperti Pelabuhan Sedayu Lawas yang dalam catatan kuno Tiongkok sering juga disebut dengan nama Sugalu56. Selain itu, mereka juga memaksimalkan peran pelabuhan-pelabuhan penting lainnya seperti di wilayah pesisir Tuban dan Gresik.
Pelabuhan-pelabuhan pesisir utara ini memegang peran ganda yang sangat vital. Tempat-tempat ini bukan hanya berfungsi sebagai pusat niaga dan perdagangan yang didatangi oleh pedagang internasional, tetapi juga diubah fungsinya sebagai pangkalan armada laut. Yap, pelabuhan ini menjadi titik tolak jalur peluncuran kapal-kapal tempur Singasari saat mereka melancarkan berbagai ekspedisi militer besar ke luar Pulau Jawa. Wah, benar-benar strategi ekonomi sekaligus ekspansi militer yang sangat matang dan terintegrasi, kan?
Beralih ke sisi budaya dan kepercayaannya, kehidupan masyarakat di Kerajaan Singasari ini ternyata sangat menarik dan penuh toleransi, lho! Tahukah kamu kalau mereka sangat menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama? Yap, toleransi beragama antara umat Hindu dan Buddha di wilayah kerajaan ini benar-benar patut diacungi jempol.
Hebatnya lagi, Raja Kertanegara sendiri mendalami dan mempraktikkan sebuah ajaran sinkretisme atau perpaduan yang sangat unik antara ajaran Hindu aliran Siwa dan Buddha Mahayana, yang sering dikenal dengan ajaran Syiwa-Buddha (Tantrayana). Keren banget, kan? Seorang penguasa tertinggi justru memberi contoh langsung bagaimana menyatukan perbedaan keyakinan ke dalam sebuah harmoni yang damai.
Nggak cuma urusan toleransi saja, ada satu konsep kepercayaan yang sangat kuat dan mengakar di masyarakat pada masa itu, namanya konsep Dewa-Raja. Dalam konsep spiritual ini, seorang raja tidak hanya dipandang sebagai manusia atau pemimpin politik biasa, tetapi diyakini memiliki sifat ilahiah alias dipuja sebagai titisan para dewa tertinggi yang hidup di muka bumi. Oleh karena itulah, saat seorang penguasa wafat, mereka akan didharmakan atau diabadikan dalam bentuk arca perwujudan dewa yang diletakkan di dalam bangunan candi yang megah.
Nah, dengan kondisi masyarakat yang damai dan religius ini, ternyata ikut mendorong dunia sastra dan pengetahuan berkembang dengan sangat pesat, lho! Perkembangan karya sastra dan penyebaran ajaran moral pada saat itu nggak cuma ditulis di atas lembaran daun lontar saja. Para seniman Singasari sangat kreatif memvisualisasikan kisah-kisah sastra tersebut lewat pahatan relief-relief cerita yang menghiasi dinding candi. Kalau kamu memperhatikan candi-candi peninggalan mereka, ukiran relief itu bukan cuma sekadar hiasan estetik, tapi juga berfungsi sebagai media pendidikan moral dan keagamaan yang pesannya sangat dalam bagi rakyatnya8. Wah, ternyata selain jago militer, masyarakat Singasari juga sudah berbudi luhur dan artsy banget ya di masa itu!
Ngomongin soal sejarah kerajaan kuno Nusantara, pasti nggak bakal lengkap kalau kita nggak bahas peninggalan-peninggalan fisiknya yang super keren, kan? Nah ternyata, Kerajaan Singasari ini mewariskan banyak banget mahakarya luar biasa yang masih bisa kita kunjungi dan nikmati sampai sekarang, lho! Penasaran apa saja buktinya? Yuk, kita jalan-jalan virtual melihat jejak-jejak kejayaan mereka!
Kita mulai dari deretan Candi-Candi Megah, ya! Pertama, ada Candi Singosari. Candi megah yang berlokasi di Malang ini didirikan sebagai tempat pendharmaan atau penghormatan khusus bagi raja terakhir sekaligus raja terbesarnya, yaitu Raja Kertanegara. Candi ini ibarat saksi bisu yang menjadi simbol dari puncak kejayaan hingga masa akhir keruntuhan Kerajaan Singasari.
Kedua, ada Candi Kidal. Tahukah kamu? Candi ini dibangun secara khusus sebagai tempat pendharmaan untuk Raja Anusapati. Yang bikin candi ini sangat unik dan terkenal adalah pahatan relief Garudeya, yang mengisahkan perjuangan seekor Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan4. Pesan moralnya dalam banget, ya!
Ketiga, kita punya Candi Jago atau sering juga disebut Jajaghu. Ini adalah candi pendharmaan untuk Raja Wisnuwardhana. Strukturnya beda banget dari candi pada umumnya lho, karena bentuknya bertingkat dan bagian dindingnya dipenuhi oleh ukiran relief-relief indah yang bercerita tentang kisah-kisah moral dan keagamaan.
Keempat, ada Candi Sumberawan. Kalau candi lain bentuknya menjulang tinggi, candi yang satu ini adalah peninggalan bercorak Buddha yang bentuk utamanya berupa stupa. Terletak di kawasan alam yang sangat tenang, candi tanpa relief ini dulunya digunakan sebagai tempat khusus untuk pemujaan dan meditasi8.
Eits, nggak cuma bangunan candi saja, Singasari juga mewariskan Arca yang Bernilai Seni Tinggi, lho! Pernah dengar Arca Dwarapala? Yap, ini adalah patung raksasa penjaga yang selalu diletakkan di pintu masuk kawasan suci untuk melindungi tempat tersebut dari roh-roh jahat.
Lalu, ada Arca Prajnaparamita yang sering disebut-sebut sebagai salah satu arca terindah yang pernah ditemukan di Indonesia10. Patung perwujudan dari dewi kebijaksanaan ini sangat spesial, karena sering diyakini sebagai wujud nyata dari kecantikan Ken Dedes!
Terus, jangan lupakan juga Arca Amoghapasa. Patung ini bukan patung biasa, melainkan punya nilai diplomasi tingkat tinggi. Kenapa? Karena arca ini dijadikan hadiah diplomatik istimewa dari Raja Kertanegara untuk raja Dharmasraya di Sumatra saat menjalankan misi Ekspedisi Pamalayu.
Terakhir, Singasari juga punya Situs Pentirtaan bernama Pentirtaan Watugede. Ini bukan sekadar kolam air biasa lho, melainkan sebuah kolam pemandian suci peninggalan Singasari. Pada masa itu, air di pentirtaan ini selalu digunakan oleh masyarakat kuno untuk melaksanakan ritual keagamaan dan pemurnian jiwa. Wah, dari semua peninggalan ini, terbukti banget kan kalau leluhur kita punya peradaban seni dan budaya yang luar biasa keren?
Nah, teman-teman, dari semua cerita panjang tadi, kita bisa menyimpulkan satu hal penting. Kerajaan Singasari itu bukan cuma sekadar kerajaan yang penuh dengan drama perebutan takhta, intrik berdarah, atau kutukan mematikan keris Mpu Gandring saja, lho! Jauh di balik semua kisah kelam itu, Singasari sebenarnya adalah pelopor gagasan besar yang sangat luar biasa. Di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara, Singasari menjadi kerajaan pertama di tanah Jawa yang mencetuskan konsep unifikasi atau penyatuan seluruh wilayah Nusantara melalui visi politik Cakrawala Mandala Dwipantara.
Sayangnya, takdir berkata lain dan kerajaan hebat ini harus runtuh akibat serangan pemberontakan dari Jayakatwang pada tahun 1292 Masehi. Tapi, eits, tunggu dulu! Kisah kejayaan keturunan kerajaan ini nggak langsung tamat begitu saja, ya. Di saat masa keruntuhan yang tragis itu terjadi, menantu Raja Kertanegara yang sangat tangguh, yaitu Raden Wijaya, berhasil lolos dari maut dan melarikan diri hingga ke Madura.
Dengan tekad yang kuat dan dukungan pengikut setianya, Raden Wijaya menyusun strategi yang super cerdas untuk merebut kembali kekuasaan di tanah Jawa67. Perjuangan tak kenal lelahnya pun membuahkan hasil yang manis! Raden Wijaya sukses meneruskan darah keturunan Dinasti Rajasa dengan mendirikan sebuah kemaharajaan baru yang kelak menjadi jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih megah dari Singasari, yaitu Kerajaan Majapahit!
Wah, seru banget kan perjalanan sejarah leluhur kita? Dari Singasari kita belajar bahwa cita-cita besar untuk menyatukan Nusantara tidak pernah mati. Terus semangat belajar sejarah, dan sampai jumpa di pembahasan seru lainnya, ya!