Halo teman-teman! Pernah ngga sih kamu ngebayangin rasanya hidup di zaman kerajaan terbesar di Nusantara? Yuk, kita kenalan sama Kerajaan Majapahit! Berdiri pada tahun 1293 Masehi oleh Raden Wijaya, Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang mampu menguasai wilayah Nusantara secara luas, lho.
Ngga main-main, kerajaan yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur ini berhasil mencapai puncak kemegahannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan sang Mahapatih yang super tangguh, Gajah Mada. Kamu pasti familiar dong sama Sumpah Palapa? Nah, lewat sumpah epik itulah Gajah Mada berhasil menyatukan berbagai wilayah di Nusantara di bawah panji kemaharajaan Majapahit. Keren banget, kan?
Di materi kali ini, kita bakal mengupas tuntas perjalanan sejarah Majapahit, mulai dari awal mula berdiri, masa keemasannya, sampai faktor apa aja yang bikin kerajaan raksasa ini akhirnya runtuh. Siap menjelajah mesin waktu? Yuk, kita mulai!
Sekarang kita masuk ke bagian pertama nih, yaitu asal usul nama Majapahit. Pernah ngga sih kamu penasaran, kenapa kerajaan sebesar dan sekeren ini namanya malah terkesan "pahit"? Ternyata, ada kisah unik dan kebetulan yang lucu di baliknya, lho!
Semuanya bermula ketika kerajaan sebelumnya, yaitu Singasari, runtuh akibat serangan Jayakatwang. Nah, Raden Wijaya yang merupakan menantu Raja Kertanegara dari Singasari, berhasil lolos dan akhirnya mendapat pengampunan dari Jayakatwang berkat bantuan bupati Madura yang cerdik, Arya Wiraraja. Setelah dimaafkan, Raden Wijaya diberikan sebidang tanah berupa hutan belantara yang bernama Hutan Tarik.
Raden Wijaya pun mulai membuka hutan tersebut untuk dijadikan desa pemukiman baru, dibantu oleh para pengikutnya dan para pekerja dari Madura. Di tengah-tengah proses babat alas atau pembukaan hutan inilah, sebuah kejadian bersejarah terjadi. Para pekerja yang sedang kelelahan menemukan banyak pohon berbuah di hutan itu. Karena lapar, mereka langsung memetik buah tersebut dan memakannya.
Plot twist-nya, ternyata buah yang mereka makan itu rasanya sangat pahit! Buah itu rupanya adalah buah maja. Dari pengalaman para pekerja memakan buah maja yang rasanya pahit inilah, wilayah pemukiman baru tersebut akhirnya diberi nama Majapahit.
Ada fun fact tambahan buat kamu nih! Selain dikenal dengan nama Majapahit, kerajaan ini juga sering disebut dengan nama Wilwatikta dalam bahasa Sanskerta. Artinya pun persis sama, guys. Kata wilwa berarti buah maja, dan tikta berarti pahit. Keren banget ya, dari sebuah insiden makan buah pahit di tengah hutan, akhirnya lahir sebuah kemaharajaan raksasa yang paling disegani di Nusantara!
Gimana, udah kebayang kan kisah lucunya? Yuk, siap-siap kita lanjut ke bagian selanjutnya!
Pernah kepikiran ngga, kenapa Majapahit bisa se-tajir dan sekuat itu? Jawabannya jelas ada di kondisi geografisnya yang super strategis!
Pusat pemerintahan alias ibu kota kerajaan raksasa ini terletak di Trowulan, yang sekarang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ternyata, pemilihan lokasi ini ngga sembarangan, lho! Secara geomorfologis, Trowulan itu letaknya dikelilingi oleh barisan pegunungan berapi di sebelah selatannya, seperti Gunung Kelud, Arjuno, Anjasmoro, dan Welirang. Nah, material dari aktivitas gunung-gunung inilah yang bikin kondisi tanah vulkanis di kawasan Trowulan jadi subur banget. Makanya, sektor pertanian sawah Majapahit bisa maju pesat dan panen beras mereka selalu melimpah ruah sepanjang tahun.
Nah, ngga cuma jago di darat alias urusan pertanian, letak Trowulan juga juara di bidang perairan! Kerajaan ini letaknya dekat banget dengan Sungai Brantas beserta anak-anak sungainya, yang kala itu jadi urat nadi transportasi dan jalur perdagangan utama. Coba deh kamu bayangin, hasil bumi yang berlimpah dari wilayah pedalaman itu langsung diangkut dengan praktis pakai perahu-perahu menyusuri Sungai Brantas menuju pelabuhan-pelabuhan besar di pesisir utara Jawa. Dari pelabuhan-pelabuhan sibuk inilah, komoditas unggulan Majapahit diekspor dan ditukar dengan rempah-rempah, keramik porselen, sampai kain sutra dari pedagang mancanegara yang datang jauh-jauh dari Tiongkok, India, dan Arab.
Jadi, perpaduan yang epic antara negara agraris yang tangguh dan negara maritim yang lincah inilah yang jadi kunci utama kemakmuran ekonomi Majapahit. Keuntungannya jadi super dobel dan bikin kerajaan ini ngga tertandingi! Gimana, makin kagum kan sama kecerdasan tata letak nenek moyang kita? Yuk, kita lanjut ke bagian selanjutnya!
Dari mana sih kita bisa tahu semua kisah epik tentang Majapahit ini? Kan zaman itu belum ada smartphone buat rekam-rekam vlog! Nah, ceritanya bisa kita ketahui secara akurat berkat tiga sumber sejarah utama, nih.
Pertama, Sumber Lokal. Nenek moyang kita ternyata jago banget nulis karya sastra, lho! Ada dua kitab super legend yang jadi semacam "buku harian" kerajaan. Yang pertama adalah Kitab Pararaton (Book of Kings), ditulis dalam bahasa Kawi, yang banyak menceritakan sejarah dari era Ken Arok sampai awal mula terbentuknya Majapahit12. Terus, ada mahakarya Kitab Nagarakretagama (atau Desawarnana) yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi34. Kitab ini adalah laporan epik nan detail tentang luas wilayah, silsilah raja, upacara keagamaan, hingga keseharian masyarakat di masa keemasan Raja Hayam Wuruk25.
Kedua, Sumber Asing. Gengsi Majapahit ternyata go international, guys! Kita juga tahu sejarah kerajaan maritim ini dari catatan para musafir asing, khususnya dari Tiongkok6. Salah satu yang paling terkenal adalah catatan sejarah dari masa Dinasti Ming67. Ada seorang penerjemah untuk Laksamana Cheng Ho bernama Ma Huan yang menulis laporan detail berjudul Yingya Shenglan68. Waktu berkunjung ke Majapahit sekitar tahun 1413 M, Ma Huan nyatet banyak banget info keren tentang pelabuhan yang sibuk, sistem ekonomi, sampai kebudayaan unik masyarakat dan keraton Jawa910.
Ketiga, Prasasti. Kalau sekarang kita punya sertifikat kertas, zaman dulu mereka pakai prasasti berbahan batu atau lempengan logam11. Prasasti ini adalah dokumen hukum resmi yang dikeluarkan langsung oleh raja-raja Majapahit untuk mencatat peristiwa penting11. Contohnya ada Prasasti Kudadu (1294 M) yang isinya menceritakan ucapan terima kasih Raden Wijaya berupa tanah bebas pajak kepada kepala desa Kudadu yang udah nolong dia pas masa pelarian1213. Selain itu, ada Prasasti Canggu (1358 M) peninggalan Raja Hayam Wuruk yang ngatur regulasi desa-desa penyeberangan di sepanjang Sungai Brantas14.
Gimana, kebayang kan betapa tertatanya peradaban dan administrasi mereka zaman itu? Yuk, siap-siap kita lanjut bedah kehidupan politik dan birokrasinya di bagian selanjutnya!
Pernah ngga sih kepikiran gimana cara nenek moyang kita mengatur kemaharajaan sebesar Majapahit? Ternyata, sistem pemerintahan dan birokrasi politik mereka udah super canggih dan tertata rapi banget, lho!
Kisah birokrasi epik ini dimulai pada tahun 1293 Masehi, tepat setelah sang pendiri, Raden Wijaya, sukses besar mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa lewat serangan kejutan yang cerdik12. Setelah kemenangannya yang gemilang itu, Raden Wijaya resmi dinobatkan menjadi raja pertama dan menyandang gelar kebesaran Kertarajasa Jayawardhana.
Nah, Majapahit kemudian sukses melesat mencapai masa keemasannya pada saat dipimpin oleh duet maut Raja Hayam Wuruk dan sang Mahapatih andalan, Gajah Mada. Lewat sumpah legendaris yang kita kenal sebagai Sumpah Palapa, Gajah Mada bertekad pantang bersenang-senang sebelum berhasil menyatukan dan menaklukkan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji kemaharajaan Majapahit.
Kunci utama kesuksesan mereka ada di struktur birokrasi pemerintahannya yang ngga main-main. Pemerintahan Majapahit itu sifatnya teritorial dan disentralisasikan dengan birokrasi yang sangat terperinci serta berlandaskan pada konsep kosmologis. Dalam konsep peradaban ini, kedudukan raja menduduki puncak hierarki dan otoritas politik tertinggi karena ia dianggap sebagai Rajadewa alias penjelmaan dewa tertinggi di muka bumi.
Meskipun sangat berkuasa, sang raja ngga menjalankan negara sendirian secara otoriter, guys. Raja selalu dibantu oleh dewan menteri utama yang disebut Mahamantri Katrini, yang posisinya biasanya diisi langsung oleh putra-putra raja atau kerabat dekat913. Ngga cuma itu, sistem musyawarah juga sangat dijunjung tinggi karena raja selalu didampingi oleh dewan pertimbangan agung yang berisi para sesepuh kerabat kerajaan, yang lebih dikenal dengan sebutan Pahom Narendra. Dewan istimewa ini punya peran yang super krusial buat memberikan nasihat serta pertimbangan penting kepada raja sebelum beliau mengambil berbagai keputusan strategis.
Gimana, kebayang kan betapa kompleks dan majunya tatanan politik nenek moyang kita pada zaman itu? Kalau udah paham, yuk kita langsung gas bedah silsilah raja-rajanya di bagian selanjutnya!
Di bagian ini, kita bakal bahas silsilah raja-raja Majapahit dari Wangsa Rajasa yang super epik. Penasaran siapa aja tokoh-tokoh penting di balik jatuh bangunnya kerajaan raksasa ini? Yuk, kita cek daftarnya!
Kisah wangsa ini dimulai dari sang founder alias pendiri, Raden Wijaya, yang memerintah pada tahun 1293-1309 Masehi dengan gelar kebesaran Kertarajasa Jayawardhana. Setelah beliau mangkat, takhta diteruskan oleh putranya yang bernama Jayanagara (1309-1328 M)1. Sayangnya, era Jayanagara ini penuh banget sama pemberontakan dan berakhir tragis karena ia dibunuh oleh tabib istananya sendiri.
Nah, setelah Jayanagara wafat, muncullah sosok ratu yang super tangguh, Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350 M). Di bawah kepemimpinannya, Majapahit mulai agresif memperluas wilayah, apalagi setelah ia mengangkat pahlawan andalan kita, Gajah Mada, menjadi Mahapatih.
Tibalah kita di masa golden age alias puncak kejayaan Majapahit di tangan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M) yang bergelar Sri Rajasanagara. Duet mautnya dengan Gajah Mada sukses besar mewujudkan Sumpah Palapa dan bikin Majapahit menjadi kemaharajaan yang disegani di seluruh Nusantara, bahkan Asia Tenggara.
Tapi, setiap ada puncak pasti ada turunan, guys. Sepeninggal Hayam Wuruk, Majapahit masuk ke fase kemunduran. Takhta jatuh ke tangan menantunya, Wikramawardhana (1389-1429 M). Era ini bener-bener kacau karena terjadi krisis suksesi dan perang saudara perebutan takhta antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi yang ngetop dengan sebutan Perang Paregreg. Perang berdarah ini sukses menguras habis tenaga dan keuangan kerajaan! Setelahnya, Majapahit sempat dipimpin oleh anak Wikramawardhana, yaitu Ratu Suhita (1429-1447 M), tapi kondisi kerajaan udah ngga sekuat dulu.
Hingga akhirnya di masa-masa senja, Majapahit dipimpin oleh raja-raja era kemunduran yang sibuk dengan konflik internal, seperti Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) sampai dinasti Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) di akhir abad ke-151. Perlahan tapi pasti, nama besar Majapahit pun meredup dan runtuh.
Gimana, epik dan penuh drama banget kan silsilah dinasti mereka? Yuk, siap-siap kita lanjut bedah kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya mereka di bagian selanjutnya!
Perekonomian Majapahit ini merupakan perpaduan epic antara kekuatan agraris dan maritim1. Di daratan, pertanian mereka sangat subur sehingga hasil panen beras melimpah ruah dan jadi komoditas unggulan2. Sementara di lautan, mereka adalah jagoan maritim yang mengontrol jalur perdagangan rempah internasional menggunakan armada kapal raksasa kebanggaan mereka yang disebut kapal jong.
Yang bikin tercengang, masyarakat Majapahit zaman itu udah ngga zaman lagi yang namanya barter, lho! Sejak sekitar tahun 1300, mereka bertransaksi menggunakan uang koin kepeng tembaga impor dari Tiongkok yang bagian tengahnya berlubang56. Kerennya lagi, masyarakat waktu itu udah melek finansial dan mempopulerkan budaya menabung5. Mereka menyimpan koin-koin tersebut di dalam wadah tanah liat yang memiliki celah kecil, dan bentuk wadah yang paling populer adalah babi hutan, yang pada akhirnya melahirkan tradisi serta istilah "celengan" di Indonesia.
Terus, gimana dengan kehidupan sosialnya? Ternyata, masyarakat zaman itu sangat plural dan menjunjung tinggi toleransi! Agama Hindu (Syiwa) dan Buddha bisa berkembang dan hidup berdampingan dengan sangat harmonis. Ngga cuma itu, seiring berkembangnya jalur perdagangan, para pedagang Muslim dari Arab maupun India juga diterima dengan baik untuk menetap di pelabuhan-pelabuhan utama utara Jawa seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya. Bahkan, ditemukan juga sisa permukiman dan makam Muslim (Troloyo) yang lokasinya sangat dekat dengan pusat keraton Majapahit.
Nah, dari keharmonisan kehidupan umat beragama inilah lahir sebuah semboyan pemersatu bangsa yang pastinya kamu hafal di luar kepala. Yap, Bhinneka Tunggal Ika! Kalimat legendaris ini dicetuskan oleh Mpu Tantular lewat mahakaryanya, Kakawin Sutasoma. Semboyan yang pada awalnya dipakai untuk mempromosikan toleransi antara umat Hindu dan Buddha ini1516, sukses menjelma menjadi prinsip yang menyatukan keragaman bangsa Indonesia sampai detik ini.
Gimana, peradaban nenek moyang kita bener-bener maju dan keren banget kan? Yuk, kita bersiap lanjut ke bagian selanjutnya!
Pernah kepikiran ngga, gimana kerajaan sekuat dan sebesar Majapahit bisa runtuh? Ternyata, kejatuhannya itu ngga terjadi dalam semalam, lho! Ada banyak banget faktor plot twist yang bikin kerajaan raksasa ini akhirnya tumbang.
Pertama, semuanya mulai terasa goyah sejak Majapahit kehilangan dua pilar utamanya. Wafatnya Mahapatih Gajah Mada yang kemudian disusul oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389 M memicu tanda-tanda kemunduran. Kehilangan dua figur pemersatu ini bikin kerajaan kelimpungan karena ngga ada lagi sosok pemimpin yang sekuat dan setegas mereka.
Kondisi ini diperparah dengan pecahnya konflik internal dan krisis suksesi antar keluarga kerajaan. Puncaknya adalah meletusnya Perang Paregreg (1401-1406 M) antara Wikramawardhana melawan Bhre Wirabhumi. Perang saudara yang berlarut-larut ini sukses menguras habis sumber daya, keuangan, dan sangat merusak persatuan kerajaan. Akibat pusat pemerintahan yang sibuk bertikai demi kepentingannya sendiri, terjadilah disintegrasi. Banyak raja-raja bawahan (vassal) yang akhirnya mengambil kesempatan buat melepaskan diri dari hegemoni Majapahit.
Secara ekonomi, Majapahit juga pelan-pelan kehilangan kontrol atas jalur perdagangan rempah nusantara. Posisi mereka mulai digeser oleh munculnya pesaing dagang baru yang tangguh di jalur pelayaran, seperti Pasai di Sumatera dan Kesultanan Melaka di Semenanjung Malaya.
Memasuki abad ke-15 dan 16, terjadi pergeseran ideologi seiring berkembang pesatnya agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa. Tatanan ideologi keraton ikut goyah karena banyak kaum elit yang perlahan meninggalkan konsep pemujaan dewa-raja. Puncaknya, kekuatan maritim Islam pesisir, khususnya Kesultanan Demak, mulai mengambil alih kekuasaan, dan serangannya di awal abad ke-16 menjadi pukulan telak yang mengakhiri riwayat Majapahit.
Fun fact, ternyata kehancuran Majapahit juga didorong oleh bencana ekologis, guys! Adanya krisis pertanian, banjir bandang, serta letusan dahsyat Gunung Kelud yang terjadi berkali-kali turut andil mengubur dan merusak infrastruktur pemukiman serta urat nadi perekonomian Trowulan.
Gimana, super epik dan penuh drama kan akhir perjalanan sejarahnya? Dari kisah jatuh bangunnya Majapahit ini, banyak banget nilai-nilai persatuan yang bisa kita pelajari buat masa depan!
Halo teman-teman! Akhirnya kita sampai di bagian pamungkas nih, yaitu peninggalan bersejarah Majapahit. Walaupun kerajaannya udah runtuh, sisa-sisa kemegahannya masih bisa kita lihat langsung sampai sekarang, lho!
Pertama, ada deretan candi eksotis. Bintang utamanya adalah Candi Penataran di Blitar yang didapuk sebagai candi negara alias kuil utama kerajaan tempat Raja Hayam Wuruk sering beribadah. Terus, di pusat ibu kota Trowulan ada Candi Tikus, yang ternyata dulunya adalah petirtaan suci alias kolam pemandian kerajaan. Uniknya, nama "Tikus" dipakai karena pas pertama kali ditemukan pada tahun 1914, tempat ini malah jadi sarang tikus. Ada juga Candi Brahu yang berbahan bata merah dan diperkirakan jadi tempat suci perabuan raja-raja, serta Candi Bajang Ratu yang merupakan gapura paduraksa (gapura beratap) super cantik peninggalan dari masa Raja Jayanegara.
Kedua, dari segi arsitektur, nenek moyang kita terbukti udah jago banget masalah urban planning atau tata kota! Pusat kota Trowulan udah dilengkapi dengan sistem waduk dan saluran air (kanal) kuno yang terhubung rapi buat mengendalikan banjir, mengurus drainase, dan irigasi pertanian. Hampir semua infrastruktur ini dibangun pakai material andalan mereka, yaitu bata merah. Ngga ketinggalan, ada gapura candi bentar (gapura terbelah) epik bernama Gapura Wringin Lawang yang tingginya mencapai 15,5 meter dan dipercaya sebagai pintu gerbang masuk ke kompleks penting kerajaan.
Terakhir, kalau kamu teliti melihat reruntuhan candi-candi ini, kamu bakal sering nemuin ukiran logo berbentuk matahari bersinar. Yaps, itu adalah Surya Majapahit! Logo matahari dengan delapan pancaran sinar ini memuat ukiran dewa-dewa Hindu di dalamnya, dan sangat diyakini oleh para ahli sejarah sebagai lambang negara atau identitas resmi kemaharajaan Majapahit pada zaman dulu.
Wah, epik banget ya perjalanan mesin waktu kita membedah sejarah Kerajaan Majapahit! Dari kisah ini kita belajar kalau peradaban Nusantara tuh udah super maju dan membanggakan dari ratusan tahun lalu. Kalau kamu mau belajar materi sejarah lain dengan cara yang lebih seru dan asoy kayak gini, yuk langsung explore aplikasi belajar sejarah kelas Pak Hans! Sampai jumpa di petualangan sejarah berikutnya, guys!