Pernahkah kamu membayangkan kembali ke masa lalu, tepatnya pada akhir tahun 1042 Masehi? Saat itu, Raja Airlangga terpaksa mengambil keputusan berat untuk membelah wilayah kerajaannya, Kahuripan, menjadi dua bagian. Pembagian ini dilakukan dengan bantuan seorang Brahmana sakti bernama Empu Bharada demi menghindari perang saudara antara kedua putranya yang saling memperebutkan takhta. Dari perpecahan inilah, lahir Kerajaan Jenggala di timur dan Kerajaan Panjalu di barat. Nah, Kerajaan Panjalu inilah yang kemudian lebih kita kenal sebagai Kerajaan Kediri!
Pasti kamu penasaran kan, dari mana asal-usul nama kerajaan yang legendaris ini? Ternyata, nama "Panjalu" itu berasal dari kata jalu yang bermakna jantan atau pejantan. Dalam konteks kewilayahan, sebutan ini melambangkan sebuah kawasan yang sangat subur dan mampu berdiri secara mandiri.
Sementara itu, penggunaan nama "Kadiri" atau "Kediri" juga punya makna yang tidak kalah seru, loh! Nama ini diyakini diambil dari bahasa Sansekerta khadri yang berarti pohon mengkudu atau pace. Tapi, ada pendapat yang dirasa jauh lebih tepat, yaitu berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni kāḍiri. Artinya sangat mendalam, loh, yaitu mampu berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, dan memiliki kepribadian. Wah, dari arti namanya saja, kita sudah bisa membayangkan betapa hebat dan kuatnya karakter peradaban kerajaan ini pada masa itu, ya!
Teman-teman, pastinya kamu penasaran kan, dari mana sih kita bisa tahu cerita kehebatan Kerajaan Kediri ini? Nah, layaknya detektif masa lalu, para ahli sejarah merangkai kepingan-kepingan informasi dari berbagai peninggalan, baik dari dalam negeri maupun berita dari luar negeri, loh!
Pertama, kita intip dari peninggalan tertulis di dalam negeri yang berupa Prasasti. Prasasti ini umumnya adalah piagam dari batu peninggalan para raja yang menjadi bukti sejarah otentik12. Beberapa prasasti penting Kerajaan Kediri antara lain:
Prasasti Sirah Keting (1104 M): Prasasti peninggalan Raja Jayawarsa ini menceritakan tentang pemberian anugerah atau hadiah berupa tanah kepada rakyat desa yang dianggap telah berjasa bagi kerajaan.
Prasasti Ngantang atau Hantang (1135 M): Ini adalah salah satu prasasti yang paling epik! Dikeluarkan oleh Prabu Jayabaya, prasasti ini dengan bangga memuat semboyan legendaris "Panjalu Jayati" yang artinya Panjalu (Kediri) menang. Prasasti ini berisi pengesahan anugerah tanah bebas pajak bagi penduduk Desa Ngantang yang telah setia membela Kediri saat perang melawan Jenggala46.
Prasasti Jaring (1181 M): Prasasti peninggalan Raja Gandra ini cukup unik untuk dipelajari, ya! Di dalamnya diceritakan bahwa para pejabat kerajaan masa itu menggunakan nama-nama hewan untuk gelar kebangsawanannya, seperti Kebo Waruga, Tikus Jinada, Lembu Agra, Menjangan Puguh, hingga Macan Kuning.
Prasasti Kamulan (1194 M): Prasasti ini menjadi bukti ketangguhan pasukan pimpinan Raja Kertajaya, di mana tertulis bahwa Kediri telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di daerah Katang-katang34.
Wah, ternyata sejarah Kediri tidak hanya eksis di dalam negeri saja! Kehebatan Kerajaan Kediri ternyata juga diakui oleh dunia internasional, khususnya melalui Berita Asing (Kronik China). Ada dua catatan Tiongkok kuno yang merekam jejak peradaban Kediri:
Kitab Ling-Wai-Tai-Ta: Kitab ini disusun oleh seorang pengembara bernama Chou-Ku-Fei pada tahun 1178 M1112. Di dalamnya, kehidupan masyarakat Kediri digambarkan sangat rapi, sejahtera, dan makmur1314. Penduduknya diceritakan memakai kain hingga ke bawah lutut dengan rambut terurai, serta bertempat tinggal di rumah-rumah bersih yang lantainya sudah menggunakan ubin berwarna kuning dan hijau.
Kitab Chu-Fan-Chi: Ditulis oleh Chau-Ju-Kua pada tahun 1225 M. Kitab ini memuji kekayaan wilayah Nusantara dan mengakui bahwa Jawa (Kediri) adalah kerajaan yang sangat kaya dan kuat, di mana rakyatnya sudah mahir berdagang menggunakan mata uang dari campuran tembaga, perak, dan timah.
Nah, makin kebayang kan betapa besarnya pengaruh Kerajaan Kediri waktu itu? Catatan-catatan otentik inilah yang mengukuhkan posisi Kediri sebagai peradaban maritim dan agraris yang sangat maju!
Setelah mengintip sumber-sumber sejarahnya, sekarang kita jalan-jalan melihat kondisi geografis Kerajaan Kediri, yuk! Tahukah kamu di mana letak persis ibu kota kerajaan hebat ini? Kerajaan Kediri berpusat di sebuah kota bernama Daha atau Dahanapura, yang lokasinya berada di sekitar Kota Kediri, Jawa Timur saat ini. Letak pusat kerajaan ini sangatlah strategis karena posisinya tepat berada di tepi aliran Sungai Brantas yang melintang dan membelah wilayah tersebut.
Kondisi alam di sekitar wilayah Daha ini benar-benar membawa anugerah yang luar biasa, loh! Coba bayangkan, secara geografis wilayah kekuasaan ini diapit oleh dua gunung besar. Di sebelah barat terdapat jajaran Gunung Wilis, sementara di sebelah timur (atau tenggara) menjulang Gunung Kelud yang merupakan gunung berapi yang masih aktif. Nah, keberadaan Gunung Kelud inilah yang ternyata menjadi "rahasia" utama kesuburan tanah Kediri! Setiap kali meletus, Gunung Kelud memuntahkan material vulkanik yang kaya akan unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanah6. Endapan material vulkanik ini kemudian mengalir terbawa oleh Sungai Brantas, menjadikan lahan-lahan pertanian di sekitarnya sangat subur untuk ditanami.
Teman-teman, peran Sungai Brantas ternyata tidak berhenti sampai di situ saja, ya! Aliran sungai yang besar ini memiliki fungsi yang sangat krusial bagi kehidupan masyarakat Kediri. Pada masa itu, Sungai Brantas bukan sekadar dimanfaatkan sebagai sumber pengairan atau sistem irigasi persawahan yang subur7, melainkan sudah menjelma menjadi jalur transportasi air dan pelayaran niaga yang sangat ramai.
Masyarakat dan para pedagang menggunakan kapal-kapal di Sungai Brantas sebagai infrastruktur transportasi utama untuk memperlancar angkutan barang dagangan dari wilayah hulu menuju ke pelabuhan-pelabuhan niaga di daerah hilir9. Berkat letak geografis dan akses Sungai Brantas ini pula, Kerajaan Kediri berhasil memadukan keunggulan agraris di daerah pedalaman dengan kekuatan maritim di jalur perdagangan yang lebih luas10. Wah, pantas saja kerajaan ini bisa tumbuh menjadi pusat perekonomian yang sangat makmur di masa lalu!
Halo lagi! Sekarang kita masuk ke bagian politik dan pemerintahannya, nih. Seperti yang udah dibahas sebelumnya, Kerajaan Kediri (Panjalu) dan Jenggala itu asalnya dari satu wilayah, yaitu Kerajaan Kahuripan yang terpaksa dibelah oleh Raja Airlangga12. Tapi, namanya juga perebutan kekuasaan, perang saudara antara kedua kerajaan ini nggak bisa dihindari dan berlangsung sangat lama12. Nah, pertikaian panjang ini akhirnya berujung manis pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya. Di bawah kepemimpinannya yang luar biasa, Kerajaan Panjalu sukses mengalahkan Jenggala secara telak34. Bukti kemenangan epik ini diabadikan dengan bangga dalam Prasasti Ngantang (1135 M) lewat semboyannya yang super terkenal: "Panjalu Jayati" alias Panjalu Menang! Lewat kemenangan ini, wilayah Jenggala dan Panjalu berhasil disatukan kembali di bawah panji kebesaran Kediri.
Terus, gimana sih cara raja-raja Kediri mengatur wilayahnya yang semakin luas itu? Ternyata, struktur birokrasi pemerintahan mereka sudah tertata dengan sangat rapi, loh! Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sang Raja sebagai penguasa tunggal tidak bekerja sendirian67. Beliau dibantu oleh menteri-menteri tingkat tinggi yang disebut Rakryan Mahamenteri Katrini. Dewan penting ini terdiri dari tiga jabatan utama, yaitu Rakryan Mahamenteri I Hino, Rakryan Mahamenteri I Sirikan, dan Rakryan Mahamenteri I Halu. Dari ketiga jabatan tersebut, posisi I Hino adalah yang paling bergengsi dan biasanya hanya diduduki oleh keturunan raja atau putra mahkota yang kelak akan mewarisi takhta.
Berbicara soal sejarah Kediri, pastinya kita wajib membahas sang superstar, yaitu Prabu Jayabaya yang memerintah pada tahun 1135-1159 Masehi. Pada masa pemerintahannya inilah Kerajaan Kediri berhasil mencapai puncak kejayaan keemasannya!412. Kekuatan politik dan angkatan lautnya membuat wilayah kekuasaan Kediri semakin meluas, bahkan pesonanya sanggup mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera312. Tidak hanya hebat dalam urusan militer, Prabu Jayabaya juga sangat melegenda di kalangan masyarakat Jawa karena kesaktian dan ramalannya yang tersohor dalam kitab Jangka Jayabaya. Ramalan tentang masa depan Nusantara ini sangat fenomenal dan bahkan masih banyak dipercaya oleh masyarakat hingga hari ini, loh!. Wah, benar-benar sosok pemimpin yang karismatik dan tak terlupakan, ya!
Teman-teman, setelah membahas politiknya, sekarang kita intip kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kerajaan Kediri, yuk! Ternyata, perekonomian Kediri sangat kuat dan makmur, loh! Sebagai kerajaan agraris dan maritim, ekonomi mereka bertumpu pada hasil pertanian dan perdagangan1. Lahan subur di sekitar Sungai Brantas menghasilkan komoditas unggulan seperti beras, kapas, hingga budidaya ulat sutra12. Hasil bumi dan rempah-rempah ini kemudian diperdagangkan secara luas. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengekspor komoditas tersebut hingga ke Nusantara bagian timur (Maluku), menjalin hubungan dagang dengan Sriwijaya, Tiongkok, bahkan menyusuri jalur rempah sampai ke pasar Eropa.
Kesejahteraan ekonomi ini berdampak langsung pada kehidupan sosial rakyat yang hidup makmur dan tenang5. Berdasarkan catatan pengembara Tiongkok Chou-Ku-Fei, masyarakat Kediri digambarkan sudah hidup dengan sangat bersih dan rapi25. Coba bayangkan, rumah-rumah penduduk pada masa itu lantainya sudah menggunakan ubin berwarna kuning dan hijau!
Penampilan mereka juga tertata, di mana rakyatnya terbiasa memakai kain hingga ke bawah lutut dengan rambut yang dibiarkan terurai25. Untuk urusan jual beli, mereka juga sudah maju karena menggunakan koin emas serta uang dari perak sebagai alat tukar yang sah.
Lalu, bagaimana dengan sistem hukum kemasyarakatannya? Pemerintah Kerajaan Kediri ternyata sangat tertib dan tegas dalam menegakkan aturan. Bagi masyarakat yang melakukan pelanggaran aturan umum, hukuman yang diberikan bukanlah hukuman badan atau penjara, melainkan denda berupa emas. Eits, tapi buat pelaku kejahatan berat seperti pencuri dan perampok, kerajaan tidak segan-segan langsung menjatuhkan hukuman mati secara tegas, loh.
Satu lagi fakta yang paling keren, kehidupan sosial masyarakat Kediri tidak terikat pada sistem kasta yang kaku. Hal ini terbukti dari pesan kebaikan dalam kitab Lubdhaka. Dalam kitab tersebut dijelaskan secara gamblang bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang tidak ditentukan oleh keturunan atau kedudukannya, melainkan murni dinilai berdasarkan tingkah laku dan budi pekertinya. Wah, benar-benar peradaban yang sangat tangguh dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, ya!
Teman-teman, sekarang kita beralih ke sisi yang nggak kalah menarik, yaitu kehidupan budaya dan kepercayaannya! Tahukah kamu kalau mayoritas masyarakat Kerajaan Kediri itu menganut agama Hindu, khususnya aliran pemuja Dewa Siwa? Hal ini terbukti secara arkeologis dari penemuan berbagai peninggalan bersejarah seperti arca-arca bercorak Hindu Siwa di Situs Candi Gurah dan Candi Tondowongso. Meski begitu, ada juga loh masyarakat yang memeluk agama Buddha, dan mereka hidup berdampingan dengan rukun. Nah, yang paling unik dan membedakan, sang raja sering kali dihormati oleh rakyatnya sebagai penjelmaan atau inkarnasi dari Dewa Wisnu.
Karena Dewa Wisnu diyakini sebagai sosok pelindung dan pemelihara kesejahteraan dunia, wajar saja kalau sosok raja sangat dipuja dan ditaati, ya! Kepercayaan mistis mereka juga sangat kuat, sampai-sampai kalau ada orang yang sakit, mereka tidak mau minum obat, melainkan lebih memilih berdoa memohon kesembuhan langsung kepada dewa atau Buddha.
Selain kehidupan beragama yang kuat, tahukah kamu kalau era Kerajaan Kediri ini sering disebut sebagai zaman keemasan sastra Jawa Kuno? Yap, betul banget! Seni sastra berkembang dengan sangat pesat dan melahirkan karya-karya legendaris karena mendapat perhatian khusus dari penguasa. Pasti kamu pernah dengar tentang Kakawin Bharatayudha, kan? Mahakarya epik yang digubah oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh pada tahun 1157 Masehi ini menceritakan kisah perang Pandawa dan Korawa, yang sebenarnya merupakan kiasan kemenangan Kediri (Panjalu) atas Jenggala.
Nggak cuma itu, ada juga kitab Smaradahana mahakarya Mpu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara. Keren banget, kan, daya cipta para pujangga masa lalu kita?
Lalu, buat hiburannya, masyarakat Kediri ngapain aja, ya? Ternyata berdasarkan catatan pengembara Tiongkok, Chou-Ku-Fei, dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta, masyarakat Kediri punya tradisi festival yang seru abis! Setiap bulan kelima, mereka rutin mengadakan festival air yang sangat meriah, di mana orang-orang pergi bersenang-senang menaiki perahu-perahu.
Terus, saat bulan kesepuluh tiba, giliran festival gunung yang digelar. Di festival ini, masyarakat berbondong-bondong pergi ke pegunungan untuk berpesta ria sambil diiringi alunan irama musik tradisional. Alat musik yang mereka mainkan waktu itu semuanya terbuat dari kayu, loh, seperti seruling, gendang, dan gambang48. Wah, pasti seru banget ya membayangkan betapa asyik dan harmonisnya kehidupan masyarakat Kediri di zaman dulu!
Teman-teman, setelah kita takjub membahas masa-masa keemasan dan kemakmuran Kerajaan Kediri, sekarang saatnya kita masuk ke bagian akhirnya. Setiap masa kejayaan pasti ada masa runtuhnya, kan? Nah, runtuhnya Kerajaan Kediri ini sungguh dramatis karena diwarnai oleh keangkuhan dan pemberontakan epik!
Semuanya bermula pada masa pemerintahan raja terakhirnya, yaitu Kertajaya, atau yang di dalam kitab sejarah sering dikenal juga dengan julukan Prabu Dandang Gendis. Sayangnya, raja yang satu ini memiliki sifat yang sangat sombong, gila hormat, dan merasa dirinya paling sakti. Coba bayangkan, pada tahun 1222 Masehi, Kertajaya secara sewenang-wenang memaksa kaum Brahmana—yakni para pendeta Hindu dan Buddha—untuk menyembahnya layaknya seorang dewa!
Untuk membuktikan kekuatannya, Kertajaya bahkan memamerkan kesaktiannya dengan duduk santai di atas sebatang tombak yang berdiri tegak. Namun, karena hal tersebut sangat melanggar aturan agama, kaum Brahmana tentu saja menolak keras permintaan tersebut. Penolakan ini membuat Kertajaya murka besar, sehingga kaum Brahmana merasa terancam nyawanya dan terpaksa melarikan diri.
Lalu, ke mana para Brahmana ini pergi mencari perlindungan? Mereka akhirnya berlari dan meminta suaka kepada Ken Arok, sang akuwu (jabatan yang setara dengan bupati) dari wilayah Tumapel. Waktu itu, Tumapel sebenarnya hanyalah sebuah wilayah bawahan dari Kerajaan Kediri. Nah, kebetulan yang sangat pas, Ken Arok yang ambisius ini memang sudah lama memendam cita-cita kuat untuk memerdekakan Tumapel dari jeratan kekuasaan Kediri.
Mendapat dukungan penuh dari para tokoh agama tersebut, Ken Arok pun dengan mantap mendeklarasikan Tumapel sebagai sebuah kerajaan yang merdeka. Mendengar deklarasi tersebut, Kertajaya jelas tidak terima dan langsung memaklumatkan perang3. Akhirnya, pertempuran dahsyat yang sangat bersejarah pun pecah di dekat Desa Ganter pada tahun 1222 Masehi.
Dalam Perang Ganter yang luar biasa ini, pasukan Tumapel pimpinan Ken Arok sukses besar menghancurkan pasukan Kertajaya! Kertajaya sendiri dikabarkan tewas atau lenyap ke alam dewa. Kemenangan mutlak Ken Arok atas Kertajaya inilah yang sekaligus menjadi penanda berakhirnya riwayat Kerajaan Kediri selamanya. Sejak saat kekalahan itu, peradaban besar Kediri harus rela turun takhta dan statusnya berubah hanya menjadi daerah bawahan dari Tumapel, yang kelak menjelma menjadi Kerajaan Singasari
Teman-teman, meskipun riwayat Kerajaan Kediri sudah berakhir sejak ratusan tahun lalu, peradaban hebat ini tidak benar-benar lenyap begitu saja, loh! Mereka mewariskan banyak sekali peninggalan bersejarah yang sangat berharga bagi kekayaan budaya Nusantara kita.
Dari segi bangunan fisik dan arkeologis, Kerajaan Kediri meninggalkan beberapa situs dan arca penting. Salah satu penemuan paling fenomenal adalah Situs Tondowongso yang ditemukan pada awal tahun 2007. Situs ini sangat luas dan diyakini sebagai kompleks percandian Hindu yang megah pada masanya. Selain itu, ada juga Candi Gurah yang bentuk arsitekturnya sangat unik karena menjadi jembatan peralihan antara gaya seni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nah, yang tidak kalah populer adalah Arca Totok Kerot. Arca raksasa berbentuk sosok wanita bertaring ini punya legenda seru, konon ia adalah wujud seorang putri cantik asal Lodaya yang dikutuk menjadi raksasa oleh Prabu Jayabaya karena berani melawannya.
Tidak cuma berupa bangunan batu, warisan paling agung dari Kerajaan Kediri justru ada pada karya sastra dan budayanya. Seperti yang kita bahas sebelumnya, zaman Kediri adalah era keemasan sastra Jawa Kuno8. Berbagai kitab luar biasa seperti Kakawin Bharatayudha, Smaradahana, dan Kresnayana lahir di masa ini. Dan tentu saja, yang paling legendaris dan ikonik adalah Jangka Jayabaya alias ramalan Prabu Jayabaya. Percaya atau tidak, ramalan tentang masa depan Nusantara ini—seperti "kereta berjalan tanpa kuda" atau "perahu berjalan di angkasa"—masih sangat melekat dan dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa hingga hari ini, loh!
Wah, ternyata luar biasa banget ya perjalanan sejarah dan peradaban Kerajaan Kediri ini! Mulai dari intrik politik, kejayaan ekonomi maritim, hingga kekayaan sastranya benar-benar bikin kita takjub. Teman-teman, selain Kerajaan Kediri, masih banyak banget loh kerajaan-kerajaan besar lainnya di Nusantara yang punya cerita tidak kalah seru dan epik, seperti Kerajaan Singasari atau Kerajaan Majapahit.
Jadi, buat kamu yang masih penasaran dan mau tanya-tanya materi sejarah ini lebih lanjut lagi, kamu bisa banget loh diskusi langsung dengan Pak Handoko lewat web kelas sejarah. Sampai jumpa di cerita sejarah seru berikutnya, ya!