Pernah nggak sih kalian lagi baca buku sejarah, terus nemu nama "Mataram" tapi kok ceritanya beda-beda? Ada yang bahas candi-candi megah, eh di bab lain bahas kesultanan Islam. Nah, di sinilah banyak yang sering kejebak confusion. Memahami Mataram Kuno itu ibarat kita lagi nyari akar pohon besar di tanah Jawa—sebelum kita gali lebih dalam, kita harus tahu dulu pohon mana yang lagi kita bahas.
Langkah paling awal dan paling krusial adalah menarik garis tegas antara dua kerajaan yang namanya mirip, tapi dunianya beda banget. Jangan sampai ketukar ya, guys!
Kerajaan Mataram Kuno (Abad ke-8–11 M): Inilah fokus utama kita. Kerajaan ini sering juga disebut sebagai Kerajaan Medang. Coraknya? Hindu-Buddha. Identitas mereka kental banget sama mahakarya arsitektur monumental. Kalau kalian pernah ke Candi Borobudur atau Prambanan, nah itu adalah "jejak digital" asli dari kehebatan orang-orang Mataram Kuno. Mereka awalnya jaya di Jawa Tengah, tapi nanti di tengah jalan mereka memutuskan buat "pindah rumah" ke Jawa Timur.
Kerajaan Mataram Islam (Abad ke-16–18 M): Kalau yang ini munculnya jauh banget setelahnya, tepatnya setelah era Majapahit dan Demak runtuh (sekitar tahun 1586 M). Pendirinya adalah Panembahan Senopati. Sesuai namanya, coraknya sudah Islam. Jadi, secara periode waktu, keduanya ini terpisah jarak sekitar 500 tahun lebih, lho!
Kenapa sih Mataram Kuno bisa jadi kerajaan yang super kaya sampai bisa bangun candi sebesar itu? Jawabannya ada di lokasi, lokasi, dan lokasi! Ibaratnya, mereka punya real estate paling premium di tanah Jawa pada masanya.
Bayangin Jawa Tengah bagian selatan ratusan tahun lalu. Wilayah ini dikepung oleh "benteng-benteng" raksasa berupa gunung api aktif seperti Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.
Tanah yang Selalu "Update" Nutrisi: Meskipun gunung api itu berisiko, abu vulkaniknya adalah pupuk alami terbaik. Ini bikin tanah Mataram Kuno subur banget. Mau ditanam apa saja, pasti panen besar!
Air yang Melimpah: Didukung aliran Sungai Progo dan Sungai Elo, nenek moyang kita sudah pinter banget ngatur irigasi buat sawah. Hasilnya? Mereka surplus beras. Stok beras melimpah inilah yang jadi "modal" buat kasih makan ribuan pekerja yang ngebangun candi-candi raksasa tanpa perlu impor bahan pangan.
Nah, gimana sih awal mula "batu pertama" kerajaan ini diletakkan? Kita punya bukti otentik alias "akte kelahiran" kerajaan ini, namanya Prasasti Canggal (732 M) yang ditemukan di Gunung Wukir, Magelang.
Sosok Raja Sanjaya: Prasasti ini memperkenalkan kita pada Raja Sanjaya, pemimpin yang gagah berani. Dikisahkan, sebelum dia naik takhta, tanah Jawa sempat kacau setelah masa pemerintahan pendahulunya, Raja Sanna. Sanjaya muncul sebagai "pahlawan" yang menyatukan kembali wilayah yang tercerai-berai.
Simbol Kekuasaan: Sebagai tanda kemenangannya dan rasa syukur, Sanjaya mendirikan sebuah Lingga (lambang Dewa Siwa) di atas bukit. Ini menegaskan kalau pada awalnya, Mataram Kuno itu coraknya Hindu Siwa.
Lahirnya Wangsa Sanjaya: Dari sinilah nama Wangsa (Dinasti) Sanjaya lahir. Garis keturunan ini nantinya bakal jadi penguasa yang sangat berpengaruh dan menjaga tradisi Hindu di tanah Jawa selama berabad-abad.
Gimana sih kita bisa tahu kalau Raja Sanjaya itu sakti atau Raja Balitung itu pernah berkuasa? Semuanya berkat penemuan prasasti. Prasasti itu ibarat official statement atau rilis resmi dari istana yang dipahat di batu atau logam. Tanpa benda-benda ini, sejarah Mataram Kuno cuma bakal jadi mitos belaka, guys.
Bisa dibilang, ini adalah "Akte Kelahiran" resmi dari Kerajaan Mataram Kuno. Ditemukan di Gunung Wukir, Magelang, prasasti ini adalah kunci pembuka sejarah kita.
Isinya Apa? Prasasti ini menceritakan tentang Raja Sanjaya yang mendirikan sebuah Lingga (lambang Dewa Siwa) di atas bukit. Ini menandakan kalau Sanjaya adalah raja yang sah dan punya legitimasi religius yang kuat.
Kondisi Tanah Jawa: Lewat prasasti ini, kita tahu kalau sebelum Sanjaya naik takhta, Jawa sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal pemimpin sebelumnya, Raja Sanna. Sanjaya datang sebagai "pahlawan" yang membawa kedamaian dan kemakmuran kembali.
Kalau kalian bingung siapa saja yang pernah jadi presiden Indonesia, kalian tinggal cari daftar resminya. Nah, Prasasti Mantyasih ini fungsinya mirip, yaitu sebagai "Katalog Resmi" raja-raja Mataram Kuno.
Daftar Nama Raja: Dikeluarkan oleh Raja Balitung, prasasti ini menyebutkan urutan raja-raja yang pernah berkuasa sebelum dia, mulai dari Raja Sanjaya sebagai pendiri. Kenapa Balitung bikin begini? Ya buat pamer dan bukti kalau dia itu keturunan penguasa yang sah, bukan raja "kaleng-kaleng".
Hadiah Buat Desa: Selain daftar raja, prasasti ini juga mencatat pemberian status sima (bebas pajak) buat desa Mantyasih karena warganya sudah berjasa pada kerajaan. Enak ya, zaman dulu sudah ada insentif pajak!
Nah, di sini ada plot twist yang menarik banget. Kalau selama ini kita mikir beda agama itu susah akur, Mataram Kuno sudah kasih contoh toleransi yang luar biasa lewat Prasasti Kalasan.
Kolaborasi Dua Wangsa: Prasasti ini mencatat pembangunan sebuah bangunan suci untuk Dewi Tara (tokoh dalam agama Buddha). Menariknya, para penasihat raja dari keluarga Syailendra (yang beragama Buddha) berhasil meyakinkan raja dari keluarga Sanjaya (yang Hindu) untuk membangun tempat ibadah ini.
Bukti Kemegahan: Prasasti ini juga jadi bukti awal munculnya dominasi Wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang nantinya bakal kasih kita mahakarya bernama Candi Borobudur. Jadi, dari sini kita belajar kalau kerja sama antar-umat beragama itu sudah jadi lifestyle nenek moyang kita sejak dulu, guys!
Ternyata seru ya, cuma dari bongkahan batu, kita bisa tahu intrik politik sampai kisah toleransi di masa lalu.
Mataram Kuno punya posisi istimewa karena dinamika agamanya yang unik. Di tengah masyarakat agraris yang subur, Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan sangat damai. Fenomena ini melahirkan sinkretisme budaya yang luhur dan karya monumental yang masih kita lihat sampai sekarang.
Kehidupan religi di sini ditandai dengan adanya dua kepercayaan besar yang dianut oleh penguasa maupun rakyatnya. Dualisme ini berjalan seiring dengan kekuasaan dua dinasti (wangsa) besar yang memerintah.
Wangsa Sanjaya dan Pemujaan Siwa: Dinasti ini adalah penganut Hindu (aliran Siwa) yang taat.
Bukti Autentik: Hal ini dibuktikan dalam Prasasti Canggal (732 M) yang menceritakan pendirian sebuah Lingga (simbol Dewa Siwa) oleh Raja Sanjaya di Bukit Stirangga.
Makna Ritual: Pendirian lingga ini adalah simbol permohonan keselamatan rakyat di bawah perlindungan Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa).
Wilayah Pengaruh: Peninggalannya banyak ditemukan di Jawa Tengah bagian utara, seperti Kompleks Candi Dieng dan Candi Gedong Songo.
Wangsa Syailendra dan Kemegahan Buddha: Sebaliknya, ada Wangsa Syailendra yang menganut Buddha aliran Mahayana.
Pusat Kekuatan: Wangsa ini berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan.
Masterpiece Dunia: Puncak kejayaannya adalah pembangunan Candi Borobudur pada masa Raja Samaratungga sekitar tahun 824 M.
Kosmologi Buddha: Struktur Borobudur melambangkan tingkatan alam semesta: Kamadhatu (alam nafsu), Rupadhatu (alam bentuk), dan Arupadhatu (alam tak berwujud).
Dukungan Negara: Keberadaan candi besar seperti Borobudur, Mendut, dan Pawon membuktikan bahwa Buddha adalah agama negara yang didukung penuh oleh kerajaan.
Warisan terbesar Mataram Kuno bukanlah emas, melainkan nilai toleransi yang sangat tinggi. Tidak ada catatan sejarah mengenai konflik agama besar; yang ada justru kerja sama lintas iman.
Prasasti Kalasan (778 M): Ini adalah bukti nyata toleransi. Para guru spiritual dari Wangsa Syailendra (Buddha) meminta izin kepada Rakai Panangkaran (Raja dari Wangsa Sanjaya yang Hindu) untuk membangun tempat suci bagi Dewi Tara.
Respon Raja: Meskipun Hindu, Rakai Panangkaran malah memberikan Desa Kalasan secara cuma-cuma kepada komunitas Buddha untuk membangun Candi Kalasan dan Candi Sari.
Raja Pengayom: Tindakan ini menunjukkan bahwa raja bertindak sebagai pelindung bagi semua golongan agama di wilayahnya.
Pernikahan Politik: Puncak harmoni ini terjadi lewat pernikahan antara Rakai Pikatan (Hindu) dengan Pramodhawardhani (Buddha), putri Raja Samaratungga.
Simbol Cinta & Religi: Dampaknya terlihat pada Candi Plaosan Lor yang dibangun Rakai Pikatan untuk istrinya; candi ini punya corak Buddha tapi dengan arsitektur yang memadukan unsur Hindu.
Tetangga yang Rukun: Lokasi Candi Prambanan (Hindu) dan Candi Sewu (Buddha) yang berdekatan jadi saksi bisu betapa harmonisnya mereka saat itu.
Agama bukan cuma soal ibadah, tapi juga pilar penting dalam struktur sosial dan pemerintahan.
Sistem Kasta Lokal: Masyarakat mengenal pembagian golongan mirip kasta di India (Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra), tapi penerapannya di Jawa lebih fleksibel.
Status VIP: Golongan agamawan (Brahmana atau Bhiksu) sangat dihormati dan menjabat sebagai penasihat raja serta pemimpin upacara.
Sima (Tanah Perdikan): Raja sering menetapkan suatu daerah menjadi Sima, yaitu tanah bebas pajak yang hasilnya dipakai sepenuhnya untuk merawat bangunan suci dan kesejahteraan pendeta.
Pusat Pendidikan (Mandala): Kompleks candi dan biara juga berfungsi sebagai sekolah untuk belajar agama, sastra, dan bahasa Sanskerta.
Magnet Internasional: Kualitas pendidikan agama di sini sangat tinggi, sampai-sampai banyak pelajar mancanegara yang datang untuk belajar.
Dalam sistem Mataram Kuno, agama dan politik itu ibarat keping koin yang nggak bisa dipisahkan.
Titisan Dewa: Ada konsep "Dewa-Raja", di mana raja dianggap sebagai titisan dewa di dunia.
Identitas Dewa: Dalam Hindu, raja sering dianggap titisan Wisnu atau Siwa, sementara dalam Buddha dianggap sebagai Bodhisatwa.
Kekuasaan Mutlak: Konsep ini bikin posisi raja jadi sakral dan mutlak; melawan raja berarti sama saja melawan dewa.
Jejak Sejarah: Contohnya bisa dilihat dari pendirian Lingga oleh Sanjaya yang disimbolkan sebagai restu dari Dewa Siwa.
Pendarmaan: Bahkan saat raja wafat, ia sering dibuatkan arca perwujudan dewa di candi pendarmaan sebagai simbol kembalinya roh raja ke asalnya.
Sejarah politik Mataram Kuno itu nggak simpel dan nggak cuma dijalankan oleh satu orang saja. Ada hubungan yang super kompleks antara dua dinasti besar, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Hubungan mereka itu kayak rollercoaster; kadang akur banget sampai bangun candi bareng, tapi kadang juga terlibat konflik panas yang bikin salah satunya harus terusir dari tanah Jawa.
Para sejarawan sebenarnya sempat berdebat panjang soal siapa yang paling berkuasa saat itu. Namun, teori yang paling banyak dipakai sekarang adalah Teori Dua Dinasti, yang bilang kalau ada dua keluarga besar yang memerintah berdampingan di Jawa Tengah dengan wilayah dan agama yang berbeda.
Wangsa Sanjaya (Hindu): Didirikan oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, wangsa ini adalah penganut Hindu Siwa yang taat. Basis kekuasaannya ada di Jawa Tengah bagian utara, makanya kalian bakal nemu candi-candi Hindu kayak Dieng atau Gedong Songo di daerah pegunungan sana. Para rajanya biasanya punya gelar "Rakai".
Wangsa Syailendra (Buddha): Nah, kalau yang ini penganut Buddha Mahayana yang sangat militan. Mereka lebih banyak berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan (sekitar Jogja dan Magelang). Merekalah yang meninggalkan warisan megah kayak Candi Borobudur, Mendut, dan Kalasan.
Dinamika Kekuasaan: Hubungan mereka itu pasang surut. Ada kalanya Sanjaya yang dominan, tapi ada masanya Syailendra yang mendesak Sanjaya ke utara, atau bahkan mereka memerintah bareng-bareng dalam harmoni.
Bagian yang paling keren dari mereka adalah tingkat toleransinya yang luar biasa tinggi. Walaupun beda keyakinan dan bersaing secara politik, mereka bisa menciptakan kerukunan yang diabadikan dalam bentuk batu.
Kerjasama Rakai Panangkaran & Syailendra: Di Prasasti Kalasan, diceritakan kalau para guru agama Buddha dari Wangsa Syailendra minta izin ke Rakai Panangkaran (yang Hindu) buat bangun tempat suci untuk Dewi Tara. Hebatnya, Panangkaran nggak cuma izinin, tapi juga kasih hadiah desa Kalasan buat membiayai candi tersebut.
Pernikahan Politik yang Legendaris: Puncak "kerukunan" ini terjadi lewat political marriage antara Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya-Hindu) dengan Pramodhawardhani (Putri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra-Buddha). Strategi ini cerdik banget karena menyatukan dua kekuatan besar lewat jalur kekeluargaan.
Candi Plaosan sebagai Bukti Cinta: Hasil dari persatuan ini bisa kita lihat di Candi Plaosan Lor. Candi ini coraknya Buddha banget (karena hadiah buat sang istri), tapi tetap punya sentuhan arsitektur Hindu. Persatuan ini juga yang bikin pembangunan Borobudur yang sempat tertunda akhirnya bisa selesai.
Tapi guys, nggak selamanya manis. Pernikahan Pikatan dan Pramodhawardhani ternyata memicu "bara" di dalam keluarga Syailendra sendiri. Tokoh yang paling nggak setuju adalah Balaputradewa.
Akar Masalah: Balaputradewa itu adik atau kerabat Pramodhawardhani. Sebagai putra Raja Samaratungga, dia merasa dialah yang paling berhak atas takhta Syailendra, bukannya malah jatuh ke tangan Rakai Pikatan lewat jalur pernikahan.
Perang Saudara: Ketegangan ini pecah jadi perang saudara antara kubu Pikatan-Pramodhawardhani melawan kubu Balaputradewa.
Terusir ke Sumatra: Balaputradewa akhirnya kalah dan terdesak. Dia sempat bikin benteng di bukit Ratu Boko sebelum akhirnya kabur ke Sumatra sekitar tahun 856 M.
Menjadi Raja Sriwijaya: Di Sumatra, Balaputradewa diterima baik karena ibunya berasal dari sana, dan dia pun naik takhta jadi Raja Sriwijaya. Di bawah dia, Sriwijaya malah jadi kerajaan maritim paling superpower.
Dendam Turun-temurun: Kekalahan ini jadi akhir dominasi Syailendra di Jawa, tapi sekaligus menanamkan benih benci yang awet banget. Dendam antara Jawa (Mataram) dan Sumatra (Sriwijaya) ini bakal terus mewarnai sejarah kita sampai berabad-abad kemudian.
Napas utama kehidupan di Mataram Kuno adalah tanah dan pertanian. Kondisi geografis yang dikelilingi gunung berapi dan dialiri sungai-sungai besar menciptakan "paket lengkap" buat kemakmuran.
Bayangin kalian punya tanah yang selalu "di-update" nutrisinya secara alami oleh abu vulkanik. Inilah yang bikin Mataram Kuno jadi lumbung padi raksasa.
Bukti di Prasasti: Dalam Prasasti Canggal (732 M), Pulau Jawa disebut sebagai Yawadwipa, yang artinya pulau yang kaya akan padi dan emas. Sektor padi sawah inilah yang jadi tulang punggung ekonomi mereka.
Jejak Visual di Borobudur: Kalau kalian main ke Candi Borobudur, coba cek Relief Karmawibhangga di kaki candi (panel 0.26). Di sana ada ukiran tanaman padi yang subur banget.
Sistem Logistik Canggih: Nggak cuma jago nanam, mereka juga sudah punya sistem penyimpanan yang rapi. Ada relief yang nunjukin lumbung padi yang dijaga ketat sama orang dan anjing buat mastiin ketahanan pangan aman.
Modal Bangun Candi: surplus beras inilah yang jadi "bensin" buat membiayai ribuan pekerja untuk membangun mahakarya kayak Borobudur dan Prambanan.
Meskipun lebih fokus ke pedalaman (inward looking), bukan berarti rakyatnya nggak jago dagang, ya guys. Mereka tetap punya pasar yang ramai buat memenuhi kebutuhan yang nggak bisa diproduksi sendiri.
Istilah Ekonomi Kuno: Zaman dulu, pedagang disebut dengan istilah abakul, dan aktivitas dagangnya disebut adagan.
Jalur Tol Sungai: Karena belum ada jalan tol, sungai jadi jalur transportasi paling vital. Di masa Raja Balitung, Sungai Bengawan Solo dikembangkan jadi jalur perdagangan utama.
Insentif Pajak: Menariknya, desa-desa di pinggir sungai dibebaskan dari pajak (tax exemption) asalkan mereka menjamin kelancaran dan keamanan para pedagang yang lewat.
Mata Uang & Pajak: Mereka sudah pakai uang emas (suwarna, masa, kupang) dan perak (dharana, masa, kupang) buat transaksi. Pajak pun sudah ditarik dari hasil bumi, kerajinan, sampai perdagangan buat pemeliharaan bangunan suci.
Di Mataram Kuno, kalian bisa tahu status sosial seseorang cuma dari cara mereka dandan. Nggak ada brand mewah, tapi jenis kain dan motif sudah jadi "kode sosial" yang jelas.
Kaum Bangsawan & Raja: Mereka pakai pakaian mewah dari bahan impor dengan motif yang super rumit, lengkap dengan perhiasan dari atas sampai bawah.
Golongan Agamawan (Brahmana/Bhiksu): Vibe-nya sangat minimalis. Mereka pakai kain panjang tanpa motif yang melambangkan kesucian dan fokus pada spiritualitas, bukan kemewahan duniawi.
Rakyat Biasa: Lebih simpel lagi, biasanya pakai tenunan sendiri dari kapas atau kulit kayu. Laki-lakinya sering pakai celana pendek atau kain lilit (jarit) sebatas lutut, plus baju pendek yang disebut kalambi.
Petani & Prajurit: Pakaian petani didesain fungsional biar nggak gerah saat di sawah, lengkap dengan topi anyaman bambu. Sementara prajurit punya atribut khusus seperti mantel atau turban sebagai tanda pengenal militer.
Warisan di Mataram Kuno mencerminkan spiritualitas yang dalam dan harmoni yang keren banget antara manusia, alam, dan Tuhan. Peninggalan ini terbagi dalam dua corak besar sesuai dengan dua dinasti yang berkuasa.
Peninggalan Hindu biasanya dikaitkan dengan masa Wangsa Sanjaya. Fungsinya sebagai tempat pemujaan dewa-dewa Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma) sekaligus tempat pendarmaan raja yang sudah wafat.
Kompleks Dieng & Gedong Songo: Inilah peninggalan tertua yang letaknya di pegunungan. Menariknya, nama-nama candinya pakai tokoh pewayangan Mahabharata (Bima, Arjuna, dll.), yang membuktikan adanya local genius atau adaptasi budaya India dengan selera lokal kita.
Candi Prambanan (Siwagrha): Ini adalah puncak arsitektur Hindu yang dibangun pertengahan abad ke-9 oleh Rakai Pikatan dan diselesaikan Rakai Balitung.
Tandingan Borobudur: Berdasarkan Prasasti Siwagrha (856 M), candi ini dibangun sebagai tandingan kemegahan Borobudur sekaligus simbol kembalinya dominasi Wangsa Sanjaya.
Struktur Ramping & Menjulang: Terdiri dari tiga candi utama buat Trimurti, dengan Candi Siwa sebagai yang tertinggi (mencapai 47 meter!). Di depannya ada candi wahana atau kendaraan dewa: Nandi (sapi), Angsa, dan Garuda. Ini bukti kemajuan teknik sipil nenek moyang kita yang luar biasa.
Di wilayah selatan, Wangsa Syailendra meninggalkan warisan Buddha yang nggak kalah legendaris.
Candi Borobudur: Didirikan sekitar tahun 824 M oleh Raja Samaratungga, ini adalah monumen Buddha terbesar di dunia!. Bedanya sama candi Hindu, Borobudur nggak punya ruang bilik (garbagriha), tapi berbentuk stupa raksasa dengan teras berundak.
3 Tingkatan Kosmologi: Strukturnya mewakili alam semesta:
Kamadhatu (kaki): Dunia manusia yang masih penuh nafsu.
Rupadhatu (lorong persegi): Manusia mulai meninggalkan nafsu tapi masih terikat bentuk.
Arupadhatu (teras melingkar & stupa induk): Tempat kebebasan murni atau Nirwana.
Poros Mendut-Pawon-Borobudur: Ketiga candi ini berada dalam satu garis lurus imajiner dan merupakan satu kesatuan ritual. Ritual dimulai di Mendut, penyucian di Pawon, dan puncaknya adalah berjalan melingkar (pradaksina) di Borobudur.
Candi Kalasan & Sari: Bukti toleransi nyata, di mana Raja Hindu (Rakai Panangkaran) membangunnya atas permintaan guru agama Buddha untuk memuliakan Dewi Tara.
Keindahan candi Mataram Kuno nggak lengkap tanpa reliefnya yang artistik banget.
Gaya Naturalis & 3 Dimensi: Berbeda sama gaya Majapahit yang kaku kayak wayang kulit, relief Mataram Kuno dipahat dengan lekukan dalam yang memberikan kesan hidup dan tiga dimensi. Proporsi tubuh manusianya digambarkan secara ideal dan realistis.
Relief Karmawibhangga (Kapsul Waktu): Terletak di kaki Borobudur yang tertutup, relief ini menggambarkan hukum sebab-akibat lewat adegan sehari-hari masyarakat abad ke-8. Kita bisa lihat "jejak digital" rumah panggung, alat musik, perahu bercadik canggih, sampai pasar dan flora-fauna lokal.
Ramayana & Krishnayana di Prambanan: Dipahatkan pada pagar langkan Candi Siwa dan Brahma. Ceritanya memang dari India, tapi suasana alam dan penokohannya sudah "di-Jawa-kan", membuktikan betapa kuatnya cita rasa seni lokal kita.
Singkatnya, peninggalan ini bukan sekadar tumpukan batu, tapi "perpustakaan visual" yang merekam tingginya peradaban dan toleransi nenek moyang kita.
VII. Keruntuhan dan Perpindahan ke Jawa Timur – Babak Baru Dinasti Isyana
Peristiwa ini menandai berakhirnya era Mataram di Jawa Tengah dan mulainya babak baru di bawah bendera Dinasti Isyana.
Tokoh kunci di balik perpindahan ini adalah Mpu Sindok. Awalnya, dia adalah pejabat tinggi di era Raja Wawa, raja terakhir dinasti Sanjaya di Jawa Tengah.
Pada tahun 929 M, Mpu Sindok resmi memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur.
Di sana, dia mendirikan Dinasti Isyana (Isyanawangsa) dan menjadi raja pertamanya.
Gelar lengkapnya super panjang: Sri Maharaja Rake Hino Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa.
Perpindahan ini jadi jembatan bagi kemunculan raja besar seperti Airlangga hingga kerajaan Singasari dan Majapahit.
Ibu kota barunya awalnya ada di Tamwlang (Jombang), lalu pindah lagi ke Watugaluh.
Pemilihan lokasi ini cerdik banget karena dekat Sungai Brantas yang subur dan vital buat jalur dagang.
Kenapa sih harus pindah mendadak? Para sejarawan punya dua teori utama, yaitu "force majeure" alias bencana alam dan urusan politik.
Amukan Gunung Merapi: Di awal abad ke-10, diperkirakan terjadi letusan dahsyat Gunung Merapi yang menghancurkan ibu kota di Jawa Tengah.
Pralaya: Letusan ini disebut sebagai "Pralaya" atau kehancuran dunia karena menimbun candi dan sawah dengan abu vulkanik.
Hilangnya "Wahyu": Rakyat zaman dulu percaya kalau bencana besar itu tanda kalau "wahyu keprabon" (legitimasi ilahi) suatu tempat sudah hilang, jadi harus cari tempat baru.
Ancaman Sriwijaya: Selain alam, Mataram juga terus-terusan diintai oleh Kerajaan Sriwijaya.
Dendam Lama: Musuh bebuyutan ini berakar dari konflik antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa yang dulu kabur ke Sumatra.
Strategi Amunisi: Pindah ke timur bikin Mataram lebih aman dari serangan langsung Sriwijaya, sekaligus lebih dekat ke jalur rempah-rempah Indonesia Timur.
Eksistensi Mpu Sindok di Jawa Timur bukan cuma mitos, tapi ada "jejak digital"-nya berupa prasasti dan situs kuno.
Prasasti Anjuk Ladang (937 M): Ditemukan di Nganjuk, prasasti ini mencatat pemberian status bebas pajak buat desa Anjuk Ladang.
Jasa Rakyat: Status ini diberikan karena warga sana sudah bantu tentara Mpu Sindok ngusir musuh (diduga serangan Sriwijaya).
Tugu Kemenangan: Di lokasi tersebut dibangun tugu kemenangan bernama Jayastamba atau yang kita kenal sekarang sebagai Candi Lor.
Situs Watugaluh: Nama ini disebut eksplisit sebagai ibu kota kerajaan dalam berbagai prasasti.
Validasi Sejarah: Penemuan artefak dan struktur bata di Jombang membuktikan kalau pusat pemerintahan Medang periode Jawa Timur memang beneran ada di sana.