Pernah gak sih kamu ngebayangin situasi survival mode yang bener-bener real? Coba deh visualisasikan: Kamu adalah seorang pangeran muda, ganteng, baru umur 16 tahun, dan lagi ada di puncak kebahagiaan karena sedang melangsungkan pesta pernikahan mewah di istana. Eh, tiba-tiba di tengah pesta, istana diserbu musuh, keluarga dibantai, dan kerajaan hancur lebur dalam semalam. Kedengarannya kayak plot drakor atau film Game of Thrones banget ya? Tapi guys, ini bukan fiksi. Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh tokoh legendaris kita, Airlangga.
Kejadian super dramatis ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Peristiwa Pralaya yang terjadi pada tahun 1016 Masehi. Jadi ceritanya, waktu itu Kerajaan Medang (Mataram Kuno periode Jawa Timur) lagi diperintah oleh Raja Dharmawangsa Teguh. Nah, sang raja ini punya keponakan dari Bali bernama Airlangga, anak dari Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta. Airlangga dikirim jauh-jauh dari Bali ke Jawa buat dinikahkan sama putri Dharmawangsa.
Pas resepsi lagi berlangsung meriah-meriahnya di ibukota Wwatan, tiba-tiba datang serangan kejutan yang brutal banget. Pelakunya adalah Raja Wurawari dari Lwaram (sekitar daerah Cepu/Blora sekarang). Konon katanya, motif serangan ini tuh personal banget, guys. Raja Wurawari ini sakit hati alias baper berat karena lamarannya pernah ditolak oleh putri Raja Dharmawangsa Teguh. Gara-gara cinta ditolak, pasukan bertindak!
Gak main-main, dalam serangan ini Wurawari ternyata bersekutu sama kerajaan super power waktu itu, yaitu Sriwijaya, buat ngehancurin Medang. Akibat serangan blitzkrieg ini, Raja Dharmawangsa Teguh beserta seluruh keluarganya dan para pembesar istana tewas seketika. Istana Wwatan yang megah langsung rata dengan tanah. Inilah yang disebut Mahapralaya atau kehancuran besar yang bikin Wangsa Isyana nyaris punah.
Terus nasib Airlangga gimana? Nah, di sinilah survival skill-nya diuji. Di tengah kekacauan itu, Airlangga yang masih ABG (16 tahun, lho!) berhasil lolos dari maut. Dia kabur masuk ke hutan rimba ditemani sama satu abdi setianya yang namanya Mpu Narotama. Bayangin, dari hidup enak di istana, tiba-tiba harus survive di hutan belantara.
Mereka lari ke daerah pegunungan yang disebut Wanagiri (kemungkinan daerah Wonogiri atau pegunungan di Jombang sekarang). Di sana, Airlangga melepaskan atribut kebangsawanannya dan hidup menyamar sebagai pertapa selama kurang lebih tiga tahun. Fase ini bener-bener jadi turning point buat Airlangga. Dia gak cuma ngumpet, tapi juga nempa fisik dan mental biar makin kuat.
Tapi, takdir emang gak bisa ditebak. Pada tahun 1019 M, setelah situasi mulai agak reda dan Airlangga dianggap udah cukup "sakti" serta bijaksana, dia didatangi oleh utusan rakyat dan para pendeta (Brahmana). Mereka memohon-mohon supaya Airlangga mau turun gunung (literally turun gunung) buat memimpin sisa-sisa rakyat yang kocar-kacir dan membangkitkan lagi kerajaan yang udah hancur.
Dengan restu para pendeta dari agama Hindu, Buddha, dan Mahabrahmana, Airlangga akhirnya setuju buat comeback. Dia dinobatkan sebagai raja di atas puing-puing kehancuran Medang. Gelarnya gak tanggung-tanggung, panjang banget guys: Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.
Mulai dari sini, Airlangga mendirikan kerajaan baru yang dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan (atau Medang Kahuripan). Ibukota pertamanya dibangun di Wwatan Mas, deket Gunung Penanggungan. Dari sinilah, Airlangga yang tadinya cuma pelarian, berubah jadi The Great King yang nantinya bakal nyatuin lagi Jawa Timur dan bikin banyak terobosan keren. Bener-bener definisi from zero to hero yang sesungguhnya!
Oke guys, kita lanjut ke babak kedua yang nggak kalah mind-blowing. Kalau tadi kita udah bahas soal survival mode-nya Airlangga di hutan, sekarang kita bahas gimana caranya beliau ngebangun ulang kerajaannya.
Tapi sebelum itu, ada satu hal yang sering bikin banyak orang kegocek. Kamu pasti sering denger nama Kerajaan Kahuripan, kan? Nah, sebenernya, nama resmi kerajaannya itu bukan Kahuripan, lho!
Jadi gini, secara administratif dan historis, kerajaan yang dipimpin Airlangga ini sebenernya masih kelanjutan dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno periode Jawa Timur). Inget kan, Airlangga itu penerus sah dari Wangsa Isyana. Jadi, ibarat perusahaan yang kantor pusatnya hancur kena musibah, terus buka kantor baru, nama PT-nya tetep sama, cuma alamatnya aja yang ganti.
Terus kenapa disebut Kerajaan Kahuripan? Ini gara-gara ibukotanya pernah berlokasi di daerah bernama Kahuripan. Karena ibukota ini yang paling famous dan jadi pusat aktivitas penting, akhirnya nama "Kahuripan" (yang artinya kehidupan) lebih melekat di ingatan orang dan legenda rakyat. Jadi, kalau di soal ujian ditanya nama kerajaannya, jangan bingung ya. Namanya tetap Medang, tapi bekennya Kahuripan.
Nah, sekarang coba tarik napas panjang dulu, guys. Kita bakal kenalan sama nama gelar resminya Airlangga pas dia dinobatkan jadi raja di tahun 1019 M. Gelar ini bukan sembarang gelar, tapi flexing tingkat dewa yang nunjukin kekuasaan dan legitimasinya. Siap?
Gelarnya adalah: Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.
Panjang banget, kan? Biar gak belibet, kita bedah dikit. Gelar "Rakai Halu" itu nunjukin jabatan tinggi di istana, biasanya urutan kedua pewaris tahta atau pejabat setingkat menteri. Sedangkan "Anantawikramottunggadewa" itu artinya raja yang keberaniannya gak ada habisnya dan sangat tinggi kedudukannya. Gelar super panjang ini penting banget buat nunjukin kalau Airlangga itu bukan raja kaleng-kaleng, tapi raja sah yang punya power besar.
Satu hal unik dari masa pemerintahan Airlangga adalah ibukotanya yang gak menetap alias nomaden. Bukan karena Airlangga bosenan ya, tapi karena alasan strategi perang, bencana alam, dan mungkin juga "trauma" masa lalu akibat serangan musuh. Berdasarkan jejak prasasti yang ditemukan, Airlangga tercatat mindahin pusat pemerintahannya sebanyak tiga kali. Yuk, kita telusuri satu-satu!
Ini adalah markas pertama Airlangga setelah dia comeback dari hutan. Lokasinya diperkirakan ada di sekitar Gunung Penanggungan atau wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Lamongan.
Bukti keberadaan ibukota ini tercatat dalam Prasasti Cane (1021 M) dan Prasasti Wwatan Mas yang ditemukan di desa Slaharwotan, Lamongan. Di sini, Airlangga mulai menyusun kekuatan buat menaklukkan raja-raja kecil yang dulu melepaskan diri pas Medang hancur.
Tapi, Wwatan Mas ini gak bertahan selamanya. Di tahun 1031-1032, istana ini hancur lagi, guys! Kali ini bukan sama Sriwijaya, tapi diserang oleh seorang raja wanita super kuat bernama Ratu Dyah Tulodong dari Kerajaan Lodoyong. Saking parahnya serangan ini, Airlangga terpaksa harus ngungsi lagi ke daerah bernama Patakan. Bener-bener raja yang resilient banget, jatuh bangun terus!
Setelah berhasil survive dan ngalahin musuh-musuhnya (termasuk Ratu Dyah Tulodong dan Raja Wurawari), Airlangga mindahin ibukotanya ke Kahuripan sekitar tahun 1032-1037. Lokasi Kahuripan ini diperkirakan ada di daerah Sidoarjo atau Surabaya sekarang.
Di sinilah masa keemasan dimulai. Airlangga gak cuma perang, tapi mulai fokus ngebangun negara. Salah satu buktinya ada di Prasasti Kamalagyan (1037 M). Di prasasti ini diceritain kalau Airlangga lagi sibuk ngebangun bendungan Waringin Sapta buat mengatasi banjir Sungai Brantas yang sering ngerugiin sawah rakyat.
Nama ibukota "Kahuripan" ini punya makna mendalam, lho. Artinya adalah tempat mencari penghidupan. Dan bener aja, di masa ini ekonomi rakyat maju pesat, perdagangan lancar, dan pertanian makmur berkat irigasi yang dibenerin sama Airlangga.
Menjelang akhir masa pemerintahannya, sekitar tahun 1042 M, Airlangga mindahin lagi pusat kerajaannya ke Dahanapura atau Daha. Lokasinya ada di wilayah Kediri sekarang.
Perpindahan ini tercatat dalam Prasasti Pamwatan (1042 M) yang ditemukan di Desa Pamotan, Sambeng, Lamongan. Uniknya, kata "Dahana" itu artinya api. Mungkin Airlangga pengen semangat kerajaannya terus menyala kayak api, siapa tau kan?
Di Dahanapura inilah drama babak akhir pemerintahan Airlangga terjadi. Di sini dia ngadepin dilema soal pewaris tahta yang akhirnya bikin dia harus membelah kerajaan jadi dua.
Jadi, dari Wwatan Mas yang penuh perjuangan, pindah ke Kahuripan yang makmur, sampai akhirnya ke Dahanapura di Kediri, perjalanan ibukota ini nunjukin kalau Airlangga itu raja yang adaptif dan visioner. Dia tau kapan harus bertahan, kapan harus nyerang, dan kapan harus pindah demi kebaikan rakyatnya. Keren banget kan mindset-nya?
Oke guys, kalau tadi kita udah bahas soal drama pelarian dan move on-nya Airlangga ke ibukota baru, sekarang kita bedah apa sih yang bikin Airlangga ini layak disebut sebagai "Bapak Pembangunan" versi abad ke-11. Ternyata, beliau bukan cuma jago perang, tapi juga jago ngatur strategi ekonomi dan politik biar rakyatnya makin makmur.
Bisa dibilang, Airlangga ini paket lengkap: survivor, panglima perang, tapi juga arsitek negara yang jenius. Yuk, kita cek kebijakan-kebijakan mind-blowing apa aja yang beliau lakuin!
Masalah klasik yang sering dihadapi kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dari dulu adalah kelakuan Sungai Brantas. Sungai ini emang nadi kehidupan, tapi kalau lagi ngamuk alias banjir, beuh... sawah-sawah bisa tenggelam dan gagal panen total.
Nah, Airlangga sadar banget soal ini. Pada tahun 1037 M, beliau ngeluarin kebijakan infrastruktur gila-gilaan, yaitu ngebangun bendungan raksasa bernama Waringin Sapta,. Proyek ini bukan proyek iseng, guys. Tujuannya jelas: buat mencegah banjir musiman yang sering ngejebol tanggul dan merusak desa-desa di sekitarnya,.
Kerennya lagi, Airlangga turun tangan langsung dan all out buat proyek ini. Buktinya ada di Prasasti Kamalagyan (1037 M). Di situ diceritain kalau raja sangat peduli sama nasib rakyatnya yang menderita karena banjir,. Berkat bendungan ini, aliran air jadi terkontrol, irigasi sawah lancar jaya, dan otomatis hasil pertanian rakyat jadi melimpah ruah,.
Ini nih bagian yang paling relatable dan bikin iri. Biar bendungan Waringin Sapta ini awet dan gak dirusak orang jahat, Airlangga butuh tim keamanan khusus. Alih-alih nyewa tentara bayaran, beliau memberdayakan warga lokal, yaitu penduduk Desa Kamalagyan dan sekitarnya,.
Imbalannya apa? Diskon pajak, guys!
Yups, kamu gak salah baca. Airlangga menetapkan pengurangan pajak buat rakyat yang bertugas memelihara dan menjaga bendungan itu,. Dalam prasasti disebutin kalau pajak yang harusnya disetor ke kas kerajaan dikurangin jumlahnya. Misalnya, pajak hasil sawah, kebun sirih, dan hasil sungai dikasih keringanan biar warga semangat jagain aset negara itu,.
Model insentif pajak kayak gini nunjukin kalau Airlangga itu raja yang fair banget. Ada kontribusi, ada kompensasi. Win-win solution banget, kan?
Gak cuma jago di darat (pertanian), Airlangga juga visioner banget soal laut. Beliau sadar kalau mau kaya raya, perdagangan maritim harus digenjot. Makanya, beliau ngembangin pelabuhan bernama Hujung Galuh,.
Lokasinya strategis banget, ada di muara Sungai Brantas (sekitar Surabaya atau Sidoarjo sekarang). Karena aliran Sungai Brantas udah dijinakin sama bendungan Waringin Sapta tadi, kapal-kapal dagang jadi lebih gampang buat berlayar masuk dari laut ke pedalaman,.
Efeknya? Hujung Galuh berubah jadi pelabuhan transit internasional yang super sibuk. Pedagang-pedagang asing (Warga Kilalan) dari berbagai negara mulai check-in di sini. Sebut aja pedagang dari India (Aryya), Champa, Khmer, Burma (Remen), sampai Srilangka (Singhala), semuanya tumplek blek di wilayah kekuasaan Airlangga,.
Kehadiran pedagang asing ini bikin ekonomi kerajaan meroket. Mereka bawa barang-barang mewah kayak keramik dan kain, terus dituker sama hasil bumi Jawa kayak beras dan rempah-rempah. Dari aktivitas ekspor-impor ini, Airlangga dapet cuan gede banget dari pajak perdagangan dan bea cukai pelabuhan. Pinter banget kan cari duitnya?
Di bidang sosial dan agama, Airlangga juga dikenal sebagai pemimpin yang chill dan toleran abis. Meskipun beliau sendiri penganut Hindu aliran Siwa (bahkan sering disamakan dengan Dewa Siwa atau Sthanu di prasasti),, beliau ngayomi semua agama yang ada.
Di masa pemerintahannya, umat Hindu, Buddha, dan para pertapa (Resi) bisa hidup rukun berdampingan tanpa drama. Bahkan, Airlangga ngebangun asrama khusus buat pusat pendidikan agama yang disebut Sri Wijaya Asrama pada tahun 1036 M.
Gak cuma itu, Airlangga juga sering dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu dalam mitologi dan sastra (seperti cerita Panji), yang tugasnya memelihara dunia. Gelar kependetaannya pas udah tua, yaitu Resi Aji Paduka Mpungku, nunjukin kalau beliau sangat dihormati oleh kaum Brahmana dan agamawan,.
Oh iya, ada satu lagi bukti kecerdasan politik Airlangga. Beliau suka ngasih status Sima (tanah perdikan/bebas pajak) ke desa-desa yang berjasa. Contohnya Desa Baru yang dikasih status Sima karena udah bantu ngasih penginapan dan logistik buat pasukan Airlangga pas perang. Atau Desa Cane yang dijadikan benteng pertahanan di barat.
Jadi, dari bendungan anti-banjir, diskon pajak, pelabuhan internasional, sampai toleransi agama, semua kebijakan ini ngebuktiin kalau Airlangga itu bukan raja kaleng-kaleng. Beliau bener-bener mikirin kesejahteraan rakyat dari hulu sampai hilir. Pantesan namanya harum banget sampai sekarang, ya gak?
Oke guys, kita masuk ke babak paling emosional dan penuh plot twist di akhir masa pemerintahan Raja Airlangga. Kalau kamu pikir hidup seorang raja itu enak terus karena tinggal tunjuk jari, kamu salah besar. Di penghujung kekuasaannya, Airlangga justru ngadepin dilema keluarga yang super ribet, persis kayak drama perebutan warisan di sinetron, tapi levelnya kerajaan!
Semua ini bermula dari masalah "siapa yang bakal jadi penerus tahta?". Secara aturan kerajaan, yang berhak menggantikan Airlangga adalah anak perempuannya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi. Beliau ini udah pegang gelar putri mahkota, yaitu Rakryan Mahamantri i Hino. Di atas kertas, dia adalah the next queen.
Nah, di sinilah kejutan itu terjadi. Bukannya seneng mau jadi ratu, Sanggramawijaya malah memilih untuk mundur alias resign dari calon pewaris tahta!. Alasannya bukan karena dia nggak mampu, tapi karena beliau lebih memilih jalan spiritual untuk menjadi seorang pertapa atau Biksuni.
Keputusan ini bener-bener bikin geger istana. Sang putri akhirnya meninggalkan kemewahan duniawi dan dikenal dengan nama baru: Dewi Kili Suci.
Buat kamu yang suka jalan-jalan atau hiking di Jawa Timur, nama Dewi Kili Suci ini pasti udah nggak asing. Sosok beliau ini sering banget dikaitkan dengan Gua Selomangleng di Kediri, yang dipercaya sebagai tempat pertapaannya. Ada juga legenda rakyat yang seru banget soal beliau dan Gunung Kelud. Konon, Dewi Kili Suci pernah dilamar oleh manusia berkepala kerbau bernama Mahesasura. Karena nolak secara halus, Dewi Kili Suci ngasih syarat mustahil buat bikin sumur raksasa. Singkat cerita, Mahesasura dikubur di sumur itu dan jadilah Gunung Kelud. Seru kan mitosnya?
Balik lagi ke Airlangga. Gara-gara putri mahkotanya mundur, Airlangga jadi pusing tujuh keliling. Masalahnya, dia masih punya dua anak laki-laki lain (dari selir atau ibu yang berbeda), yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
Dua pangeran ini sama-sama kuat dan sama-sama merasa berhak jadi raja. Airlangga sadar banget, kalau dia cuma milih salah satu, pasti bakal kejadian perang saudara yang berdarah-darah. Padahal, Airlangga udah capek-capek nyatuin kerajaan seumur hidupnya, masa mau hancur lagi gara-gara anaknya ribut?
Akhirnya, di tahun 1042 M, Airlangga mengambil keputusan berat tapi bijak: Membelah kerajaan menjadi dua. Tujuannya simpel, biar adil dan dua-duanya kebagian jatah kekuasaan.
Buat ngelaksanain pembelahan kerajaan ini, Airlangga nggak pake meteran tanah, guys. Dia minta tolong sama guru spiritual sekaligus penasihat kepercayaannya yang sakti mandraguna, yaitu Mpu Bharada.
Proses pembelahannya ini legendaris dan magis banget. Dalam kitab Negarakretagama dan prasasti Wurara, diceritain kalau Mpu Bharada membelah wilayah kerajaan dengan cara terbang ke angkasa sambil bawa kendi berisi air suci (tirta suci). Air dari kendi itu dikucurkan dari langit menyusuri daratan sampai ke laut.
Konon katanya, kucuran air sakti dari Mpu Bharada itu kemudian berubah menjadi aliran sungai yang memisahkan kedua wilayah. Sungai inilah yang sekarang kita kenal sebagai Sungai Brantas. Jadi, batas pemisah alaminya adalah sungai besar ini dan deretan pegunungan. Magic banget, kan?
Ada cerita lucu (tapi apes) pas proses ini. Katanya pas Mpu Bharada lagi terbang di atas pohon asam, jubahnya nyangkut di ranting. Saking keselnya, dia ngutuk pohon asam itu jadi kerdil. Lokasi kejadian itu kemudian dikenal dengan nama Kamal Pandak. Jangan macem-macem sama orang sakti ya, pohon aja bisa kena mental!
Berkat aksi Mpu Bharada tadi, Kerajaan Kahuripan resmi bubar dan berubah jadi dua kerajaan baru pada akhir tahun 1042 M:
Kerajaan Janggala: Wilayah ini ada di sebelah timur Sungai Brantas (sekitar Sidoarjo/Surabaya/Malang). Ibukotanya tetap di ibukota lama, yaitu Kahuripan. Kerajaan ini diberikan kepada Mapanji Garasakan.
Kerajaan Panjalu (Kediri): Wilayah ini ada di sebelah barat Sungai Brantas (sekitar Kediri/Madiun). Pusat pemerintahannya ada di kota baru bernama Dahanapura (Daha). Kerajaan ini dipimpin oleh Sri Samarawijaya.
Setelah pembagian tuntas, Airlangga merasa tugasnya di dunia udah selesai. Beliau akhirnya lengser keprabon (turun tahta) dan memilih hidup damai sebagai pertapa dengan gelar Resi Gentayu atau Resi Aji Paduka Mpungku sampai meninggal di tahun 1049 M.
Tapi, ironisnya guys, usaha Airlangga membelah kerajaan biar anak-anaknya nggak berantem ternyata nggak sepenuhnya berhasil. Sejarah mencatat kalau Janggala dan Panjalu tetep aja sering ribut dan terlibat perang saudara sepeninggal Airlangga. Yah, namanya juga manusia, kadang dikasih hati minta jantung. Tapi setidaknya, Airlangga udah berusaha jadi ayah dan raja yang seadil mungkin. Respect!
Oke guys, ngomongin sejarah itu kurang afdol kalau cuma modal "katanya". Kita butuh bukti otentik alias "no hoax" biar nggak dibilang halusinasi. Nah, Kerajaan Kahuripan dan Raja Airlangga ini ninggalin jejak yang bejibun banget, mulai dari prasasti yang isinya curhatan raja, tempat mandi kuno yang aesthetic, sampai karya sastra yang legend.
Bukti-bukti ini nunjukin kalau peradaban zaman Airlangga itu udah maju banget, literally keren parah. Yuk, kita bedah satu-satu peninggalannya yang jadi saksi bisu kejayaan masa lalu!
Kalau zaman sekarang orang curhat atau pamer pencapaian di sosmed, zaman dulu raja-raja bikin prasasti. Airlangga termasuk rajin banget bikin prasasti buat ngumumin kebijakan atau peristiwa penting. Ini dia beberapa yang paling hits:
Prasasti Pucangan (The Calcutta Stone) Ini bisa dibilang "biografi resmi"-nya Airlangga. Prasasti ini unik banget karena pakai dua bahasa, yaitu Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Isinya lengkap banget, guys.
Di bagian Sanskerta, diceritain silsilah Airlangga dari Mpu Sindok sampai orang tuanya (Udayana dan Mahendradatta).
Terus ada drama Pralaya (1016 M), pas istana diserang musuh waktu Airlangga nikahan sampai dia harus kabur ke hutan bareng Mpu Narotama.
Di bagian Jawa Kuno, isinya tentang nazar Airlangga buat jadiin daerah Pucangan sebagai wilayah Sima (bebas pajak) buat pertapaan, karena dia udah berhasil survive dan jadi raja. Sayangnya, prasasti super penting ini sekarang ada di Museum India di Kolkata, makanya sering disebut Calcutta Stone.
Prasasti Kamalagyan (1037 M) Nah, kalau ini bukti nyata kalau Airlangga itu "Bapak Infrastruktur". Prasasti ini ditemuin di Sidoarjo dan isinya ngebahas soal proyek pembangunan bendungan Waringin Sapta,. Jadi, dulu Sungai Brantas sering banjir dan ngerusak sawah warga. Airlangga turun tangan bikin bendungan biar airnya kekontrol. Kerennya lagi, warga yang bantuin jaga bendungan ini dikasih reward berupa pengurangan pajak oleh kerajaan,. Definisi pemimpin yang solutif!
Prasasti Pamwatan (1042 M) Prasasti ini kayak update status terakhir Airlangga sebagai raja. Isinya ngasih info kalau pusat pemerintahan (ibukota) udah pindah dari Kahuripan ke Dahanapura (sekarang Kediri),. Sayangnya, prasasti aslinya dilaporkan hilang pada tahun 2002, jadi sekarang kita cuma bisa lihat replika atau catatan sejarahnya aja. Sedih banget ya, guys.
Selain prasasti, Airlangga juga ninggalin bangunan suci berupa petirtaan (pemandian suci). Bukan kolam renang biasa, ini tempat yang sakral dan penuh filosofi.
Candi Belahan (Sumber Tetek) Jangan kaget sama namanya ya! Petirtaan yang ada di lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan ini disebut Sumber Tetek karena airnya mancur dari (maaf) payudara arca Dewi Laksmi,. Di sini ada dua arca dewi cantik, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Konon katanya, ini adalah tempat pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Bahkan ada dugaan kalau Candi Belahan ini adalah tempat pendharmaan (pemakaman) Airlangga yang digambarkan sebagai Dewa Wisnu menaiki Garuda. Air di sini dipercaya bikin awet muda lho, guys!
Candi Jalatundo Lokasinya juga di Gunung Penanggungan (Mojokerto). Ini adalah petirtaan super kuno yang dibangun tahun 997 M (sebelum Airlangga naik tahta, tapi masih satu circle keluarga),. Struktur batu bata dan kolamnya aesthetic banget buat foto-foto, sekaligus jadi bukti sistem tata air zaman dulu yang udah canggih.
Zaman Airlangga, seni sastra juga lagi hype banget. Salah satu mahakaryanya adalah Kitab Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa sekitar tahun 1035 M.
Isinya nyeritain perjuangan Arjuna yang bertapa buat dapet senjata sakti demi ngalahin raksasa Niwatakawaca. Tapi plot twist-nya, cerita ini sebenernya adalah kiasan (allegory) dari kisah hidup Airlangga sendiri!
Arjuna = Airlangga.
Niwatakawaca = Raja Wurawari (musuh bebuyutan Airlangga).
Perjuangan Arjuna = Perjuangan Airlangga ngebangun ulang kerajaannya.
Jadi, Mpu Kanwa itu pinter banget bikin cerita fiksi yang sebenernya curhatan politik raja, tapi dikemas dengan gaya bahasa yang indah banget. Karya ini jadi bukti kalau literasi zaman dulu udah next level.
Gimana? Dari prasasti anti-banjir, kolam pemandian legend, sampai sastra kelas dunia, semua ini bukti kalau Kerajaan Kahuripan itu bukan kerajaan kaleng-kaleng. Airlangga beneran ninggalin legacy yang bikin kita bangga sampai sekarang!
Sampailah kita di penghujung kisah epik ini, guys. Setelah drama pembagian kerajaan yang menguras emosi dan tenaga, Airlangga merasa tugas dunianya sudah kelar. Uniknya, dia nggak kayak tipikal penguasa yang haus kekuasaan sampai mati. Justru, di puncak kejayaannya, Airlangga memilih untuk "Lengser Keprabon" alias turun tahta secara sukarela.
Setelah membagi kerajaannya menjadi Janggala dan Panjalu pada tahun 1042 M, Airlangga memutuskan untuk meninggalkan hiruk-pikuk istana dan menjalani hidup sebagai pertapa atau resi. Ini langkah yang anti-mainstream banget buat raja-raja zaman dulu.
Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan kalau setelah turun tahta, Airlangga menggunakan nama gelar Resi Gentayu,. Namun, kalau kita cek sumber prasasti yang lebih valid, yaitu Prasasti Gandhakuti (1042 M), gelar kependetaan beliau adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana,. Keren banget kan gelarnya? Artinya kurang lebih dia adalah pendeta raja yang menjadi payung pelindung dunia.
Airlangga menjalani sisa hidupnya dengan tenang, menjauh dari urusan politik, sampai akhirnya meninggal dunia sekitar tahun 1049 M,. Jenazahnya kemudian didharmakan (dimakamkan/disucikan) di Tirtha atau Pemandian Suci, yang banyak ahli menduganya adalah Petirtaan Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Di sana, dia diwujudkan dalam bentuk arca Dewa Wisnu yang sedang menaiki Garuda, simbol pemelihara alam semesta,.
Jadi, apa sih yang bisa kita pelajari dari sosok Airlangga? Dia bukan cuma raja yang jago perang atau survivor yang lolos dari maut saat masih muda. Lebih dari itu, Airlangga adalah visioner sejati.
Coba bayangin, di abad ke-11, dia udah mikirin konsep tata kota dan manajemen bencana yang canggih lewat pembangunan bendungan Waringin Sapta,. Dia sadar kalau banjir itu musuh utama ekonomi rakyat, makanya dia all out benerin irigasi biar sawah-sawah nggak kebanjiran dan panen lancar.
Nggak cuma di darat, dia juga visioner di laut dengan ngembangin pelabuhan Hujung Galuh jadi pusat perdagangan internasional,. Kebijakannya yang pro-rakyat, toleransi agamanya yang tinggi, dan kemampuannya bangkit dari nol (inget masa pelarian di hutan!) bikin dia layak disebut sebagai salah satu raja terbesar yang pernah dimiliki Nusantara.
Intinya, Airlangga itu paket komplit: Warrior di medan perang, Arsitek di pembangunan negara, dan Resi di akhir hayatnya. Keren parah kan, guys? Semoga semangat pantang menyerah dan inovatifnya Airlangga bisa nular ke kita semua ya!